Thursday, January 16, 2014

Hello 2014! - Trip to Banyuwangi [Chapter 3-END]

HAPPY NEW YEAR 2014!

fireworks at Ijen
New Year 
with @aufaazki
Berpuluh-puluh kembang api tengah dinyalakan ditengah gelap gulitanya langit parkir Ijen demi menyambut tahun baru 2014, kami pun berteriak bersama Happy New Year! sambil mengabadikan moment-moment tersebut dalam kamera kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, saat kami segera memutuskan untuk mendaki kawah ijen malam itu. Kami memulai perjalanan tepat pukul 1.30 dini hari dimana cuaca saat itu tidaklah terlalu dingin, bahkan kami berkeringat ketika baru menaiki sejauh 1 km pertama yang cukup menanjak. Perjalanan kami sangatlah seru sekali, bertegur sapa beberapa kali dengan para pendaki lainnya serta melakukan beberapa kali istirahat di spot-spot tertentu. Hingga sampailah kami di tempat peristirahatan dekat kawah ijen pada pukul 3.30 dini hari dimana bau belerang sangat dahsyatnya menusuk hidung para pendaki. Kami bahkan memerlukan beberapa kali oksigen untuk menstabilkan pernapasan kami yang terganggu oleh bau belerang yang cukup tajam. Sambil menunggu matahari terbit, kami duduk mengobrol sambil memasak air untuk pop mie yang telah kami siapkan. Seusai makan pop mie, saya, ayu dan azki berjalan-jalan menyusuri kawasan terjal menuju tambang belerang yang dekat dengan kawah berwarna hijau toska yang sangat indah. Namun sayangnya, akibat jalan yang cukup curam dan terjal, kami memutuskan untuk tidak turun terlalu jauh dan saya pun memilih untuk menikmati pemandangan tersebut diatas. Coba lihat pemandangan dari jauh begitu saja sudah indah, apalagi saat didekati ya? :)

hijau toska kawah ijen, Banyuwangi
bersama sahabat travelers

Memasuki pukul 05.30 pagi, kami memutuskan untuk segera turun dan meninggalkan area kawah ijen. Perjalanan menuruni kawah ijen memang tidak terlalu melelahkan kaki seperti halnya saat menaikinya, namun sangat diperlukan rem kaki yang maksimal dan super extreme akibat kemiringannya yang luar biasa hingga mencapai 25-35 derajat. Saat turun, kami tidak hanya sibuk melakukan rem kaki tetapi juga menyempatkan dirimenikmati pemandangan sekitar yang menakjubkan, dan sesekali mengambil foto. Seperti yang dibawah ini..

jalur terjal menuju parkir mobil ijen

jalur kelokan S didekat kawah ijen
Kami pergi meninggalkan kawasan wisata ijen pada pukul 7.30 pagi, dan segera meluncur menuju arah pelabuhan Ketapang, the last destination, Taman Nasional Baluran. Tepat pukul 9.30 kami masuk area taman nasional yang memerlukan lebih dari 4 km untuk akhirnya kami singgah di padang savana dan berburu foto-foto disana. Hari itu, tepatnya 1 Januari 2014 kawasan baluran memang padat sekali pengunjung, bahkan wisata pantai yang kami idam-idamkan terpaksa tak kami jamahi lama-lama karena padatnya wisatawan yang memenuhi area wisata Pantai Bama.

padang savana, baluran

a crowded beach, Pantai Bama
Well, karena sedikit kecewa dengan penutup liburan kali ini, kami pun melampiaskan diri dengan berfoto-foto ria di dalam mobil. Berikut beberapa foto ala selfie yang lagi ngetrend akhir-akhir ini, baik dari hari pertama hingga detik akhir kami kelelahan didalam mobil, tetap kegilaan merajai...

Pantai Pulau Merah
Alas Purwo

Kawah Ijen
Taman Nasional Baluran
Mobil

well, usai sudah liburan kami kali ini, and it was awesome trip bersama sahabat travelers, Yeni, Ahmad, Suluh, Azki, Chory, Ayu, Amin, Alfian dan Rinta. Kita memang tidak pernah menyangka dengan siapa kita akan menghabiskan waktu setahun ini, apakah akan sama dengan penghujung dan awal tahun? tidak penting untuk dipikirkan, yang pasti sempatkanlah untuk menorehkan memori indah dengan siapapun kita melaluinya! Wish a best moment, hello 2014!


kegilaan di pantai pulau merah

hello 2014!
Sedang menata masa depan indah di tahun 2014
@fatimahghaniem
16 Januari 2014

Wednesday, January 15, 2014

A Last Minute! - Trip to Banyuwangi [Chapter 2]

Jika diingat kembali, 4 hari yang kami habiskan disana terasa sangat singkat. Namun, mempertimbangkan kondisi cuaca yang super hot seperti ingin bersaing dengan kota yang disinggung-singgung sebagai metropolitan kedua setelah Jakarta, yakni Surabaya, menghabiskan sehari saja di Banyuwangi itu terasa menyiksa.

Setelah berpuas diri bermain di pantai seharian, kami tergeletak luntang-lantung di rumah. Tidak ada rencana khusus hari itu selain mencuci baju dan menunggu sore hari untuk segera meluncur ke rumah teman kami, Alfian. Disana kami juga tak banyak melakukan aktivitas yang berarti, hanya sekedar ngobrol dan bercanda. Tadinya kami berencana untuk membuat rujak party, tetapi setelah berkelana sesaat di kebun milik keluarga Alfian tidak ditemukan buah mangga yang berbuah lebat. Akhirnya beberapa dari kami memutuskan untuk pergi ke Alas Purwo yang notabene dekat dengan rumah Alfian.

Alas purwo kabarnya adalah suaka marga satwa, terutama jenis banteng yang memiliki 3 pantai indah didalamnya, termasuk ketika memasuki senja dan menikmati bias sunset disana. Salah satu yang terkenal adalah G-Land atau plekung. Sore hari tersebut, kami hanya mengunjungi alas purwo di pintu masuknya saja, disebabkan karena waktu yang tidak memungkinkan untuk terus memasuki area wisata Alas Purwo. Saat itu yang ikut pergi, hanyalah para perempuan-perempuan yang ingin sekedar berfoto-foto disana. Sedangkan para lelaki memilih tinggal sambil asyik bermain PS di rumah Alfian.
Dekat Pintu Masuk Alas Purwo
yang lagi main PS
Selain keberadaan PS, ada satu makhluk unyu di rumah Alfian, yang mengalihkan duniaku dibanding yang lainnya, yakni Bruno. Bruno bukan penyanyi keren pelantun locked out of heaven itu ya, tapi Bruno yang ini lebih unyu dan imut.. and tarraa, say hello to Bruno!

Bruno, kucing kesayangan Alfian
Menurut si empunya, Bruno ini adalah kucing kesayangan yang paling peka sama hal-hal berbau gaib. Ia akan serta merta menoleh ketika merasakan kehadiran makhluk beda dunia tersebut, makanya kucing ini selalu diajak kemana-mana, terutama ke Malang tempat Alfian mengejar ilmu untuk menemani dan melindunginya.


***
Pada hari berikutnya, kami sibuk mengepak barang-barang untuk ke kawah ijen. Hari itu, sudah kami canangkan untuk mendakinya di malam hari demi melihat blue fire yang menurut informasi banyak orang, hanya ada 2 di dunia ini, yakni Islandia dan Banyuwangi. Ada banyak hal yang diperlukan untuk dibawa, seperti cokelat, madu rasa, air, oksigen dan beberapa lainnya. 

Saat itu jam menunjukkan pukul 5 sore, ketika travel telah menjemput kami untuk segera meluncur menuju TKP. Malam itu perjalanan cukup panjang dan ramai, hingga kami menginjakkan kaki di parkiran Ijen sekitar pukul 8 malam. Perjalanan menuju parkir Ijen pun cukup mengesankan karena kami sempat terpaksa harus turun dari mobil dan mendaki jalanan yang cukup curam kemiringannya, karena ketidakmampuan mobil untuk menjajah jalanan tersebut.

Karena cukup melelahkan dan kedinginan, kami segera mencari warung terdekat untuk sekedar membeli kopi dan teh hangat, serta makan mie dan soto. Saat itu, cuaca cukup memburuk karena hujan turun membasahi kawasan parkiran Ijen. Menurut informasi dari pengelola kawah ijen, para pendaki dilarang untuk naik akibat cuaca yang memburuk hingga jam-jam tertentu. Dikatakan apabila hujan telah reda pada pukul 12, pendaki diperbolehkan untuk naik.

Kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan blue fire jika hujan tidak reda hingga pukul 11, dan pergi ke atas hanya untuk menikmati sunrise. Sambil menunggu hujan reda, kami berkumpul di dalam mobil, saling bercerita dan berkisah mengenai hidup. Kisah bahagia, sedih dan bermakna. Ditengah-tengah perbincangan, sebuah suara letusan mengejutkan ke-hiruk-pikuk-an area parkir Ijen, hingga kami terpaksa beranjak turun dari mobil kami. Turun dari mobil, kami semua ternganga lebar memandangi lingkungan sekitar area parkir tersebut! Hm.. ada apa ya?


kunjungi blog ini, untuk trilogi akhir Trip to Banyuwangi ya!
@fatimahghaniem
15 January 2014

Saturday, January 11, 2014

Beach Beach and Beach! - Trip to Banyuwangi [Chapter 1]

Penghujung tahun 2013 kemaren adalah kesempatan emas menghabiskan waktu liburan pekan sunyi terakhir selama masa kuliah S1 dengan cara yang extremely different, ga ada yang namanya mikir take home ataupun written test buat ujian nanti, but simply melancong ke BANYUWANGI! 

Banyuwangi adalah nama kota di provinsi Jawa Timur, dimana merupakan perbatasan provinsi paling timur dan dekat dengan pulau Bali. Well, tentu bakal banyak banget tempat-tempat yang perlu di explore buat sekedar liburan and relax sambil menikmati keindahan-keindahan alam disana. Selain itu, kondisi Banyuwangi yang masih pure Indonesia sekali, dimana kebanyakan masyarakatnya menolak modernisasi yang dibawa oleh western culture massively. Perlu diketahui, bahkan pemerintah sendiri menetapkan sistem pembatasan jumlah supermarket yang ada disana, semacam Alfamart dan Indomaret. 

Banyuwangi juga terkenal sebagai penghasil buah jeruk terawet, dimana jeruk tersebut jika disimpan kurang lebih 2 minggu masih terasa enak. Selain buah jeruk, Banyuwangi juga memiliki banyak lahan kebun buah melon dan semangka, termasuk juga buah naga. Harga buah di Banyuwangi pun terkesan miring, terutama pada saat masa panen misalnya, buah naga merah bisa dibeli dengan harga Rp. 2.000,-/kg. Luar biasa sekali bukan?

Perjalanan menuju Banyuwangi dimulai dari kota Apel, Malang pada tanggal 28 Desember 2013 silam, menggunakan kereta ekonomi tawangalun tujuan Banyuwangi. Selama 7 jam perjalanan dari pukul, 14.45 hingga 22.15, saya dan teman-teman sampai di stasiun Rogojampi dan dijemput oleh travel serta teman kami, Yeni yang notabene tinggal di kota tersebut.

A shiny morning in Gumuk Kantong
Hari pertama di kota Banyuwangi, 29 Desember 2013 saya dan teman-teman pergi ke Pantai Gumuk Kantong, di desa tembok rejo, Muncar sekitar 7 km dari rumah teman kami, Yeni. Kami berangkat dari rumah menuju Gumuk Kantong menggunakan motor dan sepeda sedari pagi, pukul 07.00 WIB dan kembali pulang pada pukul sekitar 09.00 WIB. Pantai Gumuk Kantong, memang bukanlah pantai selatan dengan ombak yang besar, namun keindahan pantai ini terletak pada sinar matahari yang indah membias di lautnya serta pemandangan sekitar yang dipercantik dengan banyaknya pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi disekitarnya. Masyarakat sekitar sering sekali bermain di pantai ini, untuk sekedar berenang atau jogging lari pagi, ada pula yang juga berlatih karate dipinggir pantai tersebut.

Pantai Gumuk Kantong
Memasuki pukul 13.00, kami bergegas untuk pergi menuju another destination, yakni Pantai Pulau Merah yang diyakini mirip sekali dengan Pulau Kuta dahulu kala saat masih bersih dan cantik. The virgin of Kuta Beach, kata teman saya, Alfian yang juga besar di kota yang terkenal dengan jargon I BWI-nya tersebut. Jargon tersebut diperkenalkan oleh pemerintah Banyuwangi, yakni Abdullah Azwar Anas yang baru beberapa bulan sebelumnya menjabat sebagai Bupati Banyuwangi. Hampir di sepanjang jalan yang kami lalui menuju Pantai Pulau Merah, terdapat banyak banner dan spanduk bertuliskan  I BWI demi mengusung dan melestarikan kecintaan warganya terhadap kota Banyuwangi yang indah dengan aura pedesaannya. 

Pantai Pulau Merah, Banyuwangi

Tepat pukul 3 sore, kami sampai di Pantai Pulau Merah. Saat pertama kali melihat pantai tersebut, saya langsung teringat kembali pada masa SMP sekitar 6 tahun yang lalu sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Pantai Kuta. Mirip sekali, cantik dan mempesona. Suasananya pun tidak jauh berbeda, dimana di dekat pinggir pantai, bertebaran payung-payung yang disewakan. Tidak salah memang, jika pantai ini disebut-sebut sebagai the virgin of kuta beach. Disana kami mengahabiskan sore hari sambil bermain air serta mengabadikan berbagai momen indah. Salah satunya yang kami tunggu-tunggu adalah sunset di Pantai Pulau Merah. Coba tengok foto matahari yang akan terbenam dibawah tersebut, cantik bukan? 

Sunset!
masih banyak lembaran-lembaran cerita di Banyuwangi yang akan ditorehkan disini, nantikan ya!
@fatimahghaniem
11 January 2014

Thursday, January 9, 2014

Logical Reasons

Sempet baca blog sebelah, blognya mahasiswi imut yang pendiem tapi punya sejuta kata tak terungkapkan, sebut saja nona jamblang, hal ini dikarenakan hobby dia yang suka banget ngomong jamblang ditengah-tengah ke-pendiem-annya, dan ga tau juga artinya apaan. well, sebenernya postingannya simple tapi ngena sekali, tentang alasan kita mencintai atau menyukai seseorang, haruskah ada alasannya? kalo yang mau kepo dan baca, disini ya !

Alasan, setiap orang selalu mempertanyakan alasan suatu hal. Alasan kenapa datang terlambat, kenapa bangun kesiangan, kenapa ga mengerjakan PR, kenapa harus beli sandal, kenapa ngado jam tangan, kenapa merek A lebih bagus dari merek B, kenapa masih jomblo single, kenapa dan kenapa? banyak pertanyaan kenapa yang menuntut alasan. well, kalo dipikir-pikir ya, yang namanya alasan itu emang penting juga. Misalnya, alasan dateng terlambat. Kalo misalnya karena nyelamatin orang kecelakaan di jalan, mau ngomong apa? it can be happened. Yang namanya alasan alias alibi juga perlu bukti kan, gapapa dibuktikan aja kalo itu bener. Gak ada salahnya percaya, selama itu logis dan bisa dimaafkan. Ya, kecuali kalo udah ga logis dan keterusan, itu perlu dipertanyakan kedisiplinannya. Yang jelas, yang namanya alasan itu berhubungan sama hal-hal logis, hal-hal yang mudah dicerna oleh otak. Makanya, pertanyaan-pertanyaan diatas tadi, pasti gampang banget kan jawabnya, meskipun bisa aja ngibul dengan bilang, "maaf, tadi ban motor bocor dijalan" tetep aja itu masuk kategori logis yang diterima otak, bukan?

nah, gimana kalo pertanyaannya sama kayak yang dilontarkan nona jamblang, kenapa suka warna biru, kenapa kok suka sama cowo itu, gimana sih kok bisa suka sama cewe itu. Pertanyaanmya terkesan logis, tetapi bagaimana kita menjawabnya? tidak semudah menjawab pertanyaan sebelumnya bukan, yang bahkan kamu tidak memerlukan waktu untuk berpikir dua kali. Mungkin para ahli science bisa membuktikan bahwa pertanyaan diatas bisa dijawab menggunakan logika, bahwa warna biru memiliki arti ketenangan seperti air yang merupakan dekat dengan kepribadian seseorang yang cinta damai. Perasaan suka itu terjadi karena adanya hormon oxytocin yang meningkat and bla bla bla. Apakah penjelasan-penjelasan tersebut dengan mudah dicerna otak? ah kalo menurut saya tidak. Karena pada dasarnya, kita hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menguasai perasaan kita. Pemilik alam semesta inilah yang memilikinya, maha pembolak-balik perasaan. Selain itu, pertanyaan yang berurusan dengan perasaan dan ketertarikan tidaklah mudah dikaitkan dan diterima otak, karena sistem kerjanya sudah berbeda. Hati dan otak pun letaknya berjauhan. Maka, tidak ada salahnya kan ketika kita tidak memiliki alasan akan suatu hal. Alasan kenapa kita menyukai latihan debat daripada ikut paduan suara misalnya, itu juga karena hati, minat dan ketertarikan kita yang berkehendak. In this level, ini bukan lagi daerah kuasa otak. 

Jadi kesimpulannya, alasan itu memang terkadang penting, tapi bukan berarti kita memaksakan diri untuk membuat suatu alasan itu ada untuk suatu hal yang tidak berhubungan dengan hal logis. Mempertanyakan hal tidak logis tentu diijinkan, tetapi berilah lawan bicara kamu hak dan kebebasan untuk tidak menjawabnya jika hal itu berhubungan dengan hati dan perasaannya. Misalnya, jika kamu ditanya kenapa kamu suka pake sepatu high heels sih kemana-mana? boleh kok nanya, tapi hargain juga kalo yang ditanya cuma senyum aja tanpa jawaban, palingan kalo bisa jujur dan ngomong langsung, yang ditanya bakal jawab.. lha terus kenapa emangnya kalo suka, masalah buat lo? suka-suka dong!


Happy New Year!
@fatimahghaniem
9 January 2014

Friday, August 9, 2013

Eid Mubarak 1434 H Beloved Auntie!


Hey world! Eid Mubarak 1434 H, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Kalo kata iklan pertamina, kita mulai dari nol lagi ya! :)

Yang namanya lebaran itu selain bermakna kembali ke fitri, juga menjadi ajang kumpul-kumpul keluarga. Tentu saja, setiap keluarga pasti memiliki tradisinya masing-masing! Seperti halnya keluarga saya, tradisi kulinernya adalah lontong riyoyo atau ketupat lebaran yang menjadi favorit setiap sanak saudara yang datang ke rumah nenek saya, who is the oldest generation in my family. Eh, ada yang tau ga ketupat lebaran itu apa? hihi itu adalah lontong kupat yang dimakan bersama 5 bumbu, seperti: sambel goreng ati, sambel petis telor, bubuk putih, koya serta kare daging masak kentang! Hmm.. it sounds yummy, right? 

Another tradition saat lebaran di rumah nenek saya adalah tradisi saling memaafkan sambil mengatakan "minal aidzin" dan membalasnya dengan "wal faidzin" sambil cipika-cipiki ala arabians dengan hidungnya, ehem sesama muhrim tentunya. And... to be honest, sepanjang hidup saya sampe sebesar ini, saya tidak suka lebaran karena selalu dan pasti menghadapi yang namanya "sesi tangisan" ketika ber-minal-aidzin-wal-faidzin sambil berpelukan. Karena sudah pasti bikin awkward moment dimana what I can do is only stand and see the surrounding like an idiot!

Anyway, ini adalah lebaran paling beda yang pernah saya jalani! I have been through so many Ied Mubarak in my life, but it's my first time celebrating it without my beloved auntie! Masih teringat jelas, tahun lalu Ama ineng  panggilan akrab tante saya, yang sedang mengupas bawang bersama saya menyiapkan lontong riyoyo mengatakan, "ini tahun terakhir ama bikin lontong riyoyo, kamu kudu belajar dan harus bisa. Ama wes capek!" Hmm.. ternyata bener, saat itu tahun terakhir Ama, dan alafu ma, masih belum bisa bikin lontong riyoyo sendiri tahun ini :(

Ketidak-hadiran Ama memang luar biasa sekali dampaknya, I can feel it. Bahkan nenek saya pun tidak bersemangat menjalani lebaran untuk bagi-bagi uang terhadap anak-anak kecil di kampung kami yang datang ke rumah. Uma  panggilan akrab nenek saya, memilih untuk berdiam diri di kamar karena merasa tidak enak badan. Walhasil, seluruh keluarga heboh dengan tangisannya lagi, mengira terjadi sesuatu dengan Uma. Hiks, it almost ruined everything, but.. thanks Allah, nothing's wrong with Granny! Menurut tante saya yang paling bungsu, bisa jadi Uma memang merindukan keberadaan Ama di rumah, terlebih saat lebaran seperti ini.

Dan dampak lainnya adalah, saya capek sekali! Menjadi cucu perempuan kedua nenek saya adalah hal yang menakjubkan. Terlebih tanpa tante saya yang meninggal tersebut, saya jadi ikut kalang-kabut, serabut sana-sini menyiapkan segalanya seperti tahun-tahun sebelumnya. Bukan berarti saya tidak pernah membantu, tetapi rasanyaaa sungguh beda. Rasanya pekerjaan itu semakin double-double tanpa kehadiran Ama.  Apalagi ditambah status sebagai rumah orang paling tua di keluarga, rumah nenek saya memang tidak pernah sepi tamu dari pagi hingga malam hari. Jadi menyiapkan lontong riyoyo dan jajanan toples saja, tentu kurang sekali. Masih perlu menyiapkan jajanan basah lain seperti asida, tahu isi, oles-oles bahkan brownies, dan masih bersih-bersih rumah pula. Oh man! That's pretty tiring! dan jujur, hiks, kangen Ama sekali. 

Ama, Eid Mubarak 1434 H!

yang merindukan Ama,
09 Agustus 2013

Sunday, August 4, 2013

Catatan Lapang Pemandu Somplak 1

Alkisah sebulan yang lalu, terkumpulah 5 mahasiswa sastra inggris yang terdampar di Kusuma Agrowisata demi menjalankan misi pembelajaran ilmu inggris yang dibimbing  paling full-colour se-jagat-raya-Malang, sebutlah beliau Bu Indah.


Diawali pada tanggal 26 Juni saat pertama kali mendarat di bumi wisata, kota Batu, 5 orang mahasiswa tersebut, yakni Nurin a.k.a @itamitum, Fatimah a.k.a @fatimahghaniem, Galih a.k.a @galihlutvi, Iqbal a.k.a @iqbalfebrianp dan Abel a.k.a @7abel7, menjalani latihan briefing singkat oleh wakil pimpinan pemandu bernama Pak Darwoko yang ahli berbahasa mandarin tapi tidak jelas kalau menggunakan bahasa indonesia, dan mereka pun siap menjalankan misi esok harinya pada tanggal 27 Juni. 

pemandu somplak asli FIB

Hari-hari berlalu, setidaknya 8-9 jam per harinya mereka  habiskan untuk mengerjakan misi di Kusuma Agrowisata bersama para pemandu somplak lainnya yang sudah di cap lulus masa orientasi dari para senior pemandu sompak, sebut saja kedatangan para missioner pemandu somplak lainnya kelompok sastra prancis yang diketuai oleh Tia @thiaaauw, kelompok ilmu komunikasi yang paling gaul, kelompok UIN yang paling 'mengalah', kelompok sastra jepang, serta para junior SMK dari Boyolali, Malang dan Batu. 

Senior Somplak
Selain bergumul dengan misi, mereka juga menghabiskan sisa waktunya di tempat tinggal mereka di desa Torongrejo milik ibu satu anak bernama, Shanti. Banyak hal yang mereka lakukan disana, mulai dari acara memasak, jalan-jalan di sawah, memandangi pemandangan balkon kamar atas yang terlihat jelas gunung putri tidur, nongkrong di mie ayam petasan serta mengerjakan tugas-tugas tambahan dari para senior mereka.

putri tidur dari balkon kamar mereka - captured by @itamitum

Pada tanggal 27 Juli lalu, mereka telah menyelesaikan misi mereka, apa kabarnya dengan mereka sekarang yaa? Sebenernya apa sih yang mereka kerjakan dengan misinya? ... Bersambung!


tidak tahu apa yang saya tulis, yang penting SOMPLAK!!
@fatimahghaniem - 4/8/2013

Sunday, June 2, 2013

The Inspiring Best Friend

   There is a lot of things you can take a lesson, indeed. Seperti halnya beberapa hari ini, ah tidak sepanjang masa perkuliahan ini, saya sangat bangga mengenalnya.

    Berawal dari perbincangan tidak penting jumat malam lalu, rasanya ingin sekali terbang ke masa-masa awal perkuliahan. Dimana dulu saya hanyalah seorang anak lulusan SMA ingusan yang tidak tahu-menahu dunia perkuliahan, beserta hedonisme organisasi dan pergaulannya. Ah, saya memang cupu sekali dulu!

    Tidak, tentu saja saya tidak menyesali menjadi diri saya yang sekarang ini. Justru saya sangat menikmati dan bersyukur setiap proses yang saya jalani menjadi diri saya yang sekarang ini. Hmm.. memang seperti apa sih saya sekarang? No! saya bukan siapa-siapa dan memang ga perlu menjadi siapa-siapa untuk mendapatkan seorang teman yang sangat luar biasa sepertinya, the person who always inspires me to be a better person day by day!

    Sebenernya saya pernah membahas tentang dia di postingan awal tahun ini, tapi gapapalah ngomongin dia lagi, terus kalo kamu emang pengikut setia blog tidak jelas ini pasti tahu siapa, hoho.

    Mari sebut saja dia, Tiyas-bukan nama sebenarnya, adalah seorang gadis yang tumbuh dengan latar belakang keluarga yang sama dengan saya, well maksudnya sama-sama anak tunggal! Kami punya paham yang sama dalam beberapa hal untuk mengarungi dunia perkuliahan yang semakin kesini semakin membosankan karena beban organisasi yang terus menghimpit di tengah gentingnya mengejar gelar sarjana kami. Well, sebenarnya yang membuat saya sangat takjub dengan pribadinya bukan hanya dari segi bagaimana Tiyas mampu membagi waktunya antara organisasi, keluarga dan kuliah beserta kehidupan hedonisme ala anak kos yang kami lakukan beberapa kali demi menghilangkan kejenuhan kehidupan kuliah, tetapi juga ketegarannya dalam menghadapi badai kemelut anak muda yang ada dan tinggal begitu nyamannya dalam relung hatinya selama 3 tahun masa kuliah ini. Ah, saya ga sanggup menceritakan kisahnya disini bahkan menggunakan nama samaran. Selain hanya akan membuat kalian menangis, saya ga mau membuat si Tiyas tertawa terbahak-bahak ke-GR-an membaca postingan ini!

    Ini seriusan lhooo, orang yang denger ceritanya itu kemungkinan 99,99% bakal terharu dengan ketegarannya, sedangkan si empunya cerita malah ketawa terbahak-bahak karena heran dengan respon pendengar. Perlukah kejiwaanmu diperiksa? hahaha tentu tidak, disanalah letaknya saya, sebagai orang yang (semoga) paling mengenalnya, mendapatkan banyak pelajaran berharga darinya. Thank you for these long journey!!

  Yang bisa nebak who is Tiyas adalah orang-orang beriman yang berada disekitar kami, hahahahaha

for the lovely warmest best friend ever
@fatimahghaniem - 2 June 2013