Sunday, January 13, 2013

Hari ke-12 : Home!

Setelah absen dari @30haribercerita selama 2 hari, rasanya saya punya hutang gitu kalo ga posting genap sesuai tanggal hari ini.. hari ke-12! Untungnya saya punya banyak hal yang ingin diceritakan, walaupun ngerjainnya udah kayak sinetron kejar tayang dari jam setengah 7 tadi sampai sekarang menjelang pukul 12 malam. Hmm.. saya udah kayak cinderella belum, yang jam 12 teng udah harus pulang terus bobo' manis di rumah?

Hari ini, yang paling special adalah saya menginjakkan kaki di rumah orang tua saya dan sekarang bisa duduk manis didepan PC saya yang sudah bocel-bocel tapi tetap setia meskipun pernah saya duakan dengan laptop yang telah pergi meninggalkan saya. Ini seneng banget lho bisa posting di @30haribercerita tanpa perlu pake barang pinjeman, hahaha.

Jadi kenapa pulang ke rumah kali ini special? karena untuk pertama kalinya setelah semester lima ini terlewati, saya pulang dengan tenang tanpa adanya beban pikiran tugas-tugas yang bikin saya kayak kutu loncat malang-bangil setiap minggunya. 

Cuma yang bikin agak sebel hari ini ya, ada gitu orang bisa-bisanya meng-PHP saya setelah setengah jam saya kayak orang bego nungguin dia didepan terminal arjosari dan ternyata we've different destination. Kalau orang yang saya maksud baca postingan tentang ini paling ketawa sepuasnya tuh, :|

Well, untungnya hari ini perjalanan cukup lancar, sampai rumah tepat waktu dan dapet pelukan hangat dari Abi dan Umik yang setiap detiknya selalu membuatku rindu. So, welcome home myself and looking forward for another Bangil story to be written here.

Stasiun Bangil, taken from seputarbangil.blogspot.com

(fatimahghaniem - 12 Januari 2013)

Saturday, January 12, 2013

Hari ke-11 : Brother Complex

Saat saya kecil seseorang pernah mengatakan kalau saya ini punya brother complex karena dari dulu saya selalu kepengen punya big brother yang mau dengerin setiap keluh kesah saya dan selalu perhatian dan menjaga saya kemanapun saya pergi. Saya pun selalu iri ketika mendengar teman-teman saya bercerita pengalaman mereka bersama their brother. Entah itu diusilin, dianterin atau dinasehatin, yang penting tentang kakak laki-laki rasanya saya pengen banget nyumpel mulutnya. Sebel banget!

Kalo udah gitu, dulu saya nangis dirumah dan merengek-rengek minta dikasih kakak laki-laki! Dan yang saya dapat dari kedua orang tua hanyalah tawa berkelanjutan. Semakin dewasa akhirnya saya tahu, kenapa saya ga bisa punya kakak laki-laki, masih penasaran kenapa? yaiyalah, mana bisa kalo saya sudah lahir dulu begini, -.-

Tetapi dasar saya yang ga habis akal, pernah lho saya itu berasumsi kalo kali aja sebelum saya lahir sebenarnya saya punya kakak laki-laki tapi dititipin di negeri seberang entah itu dimana, atau kakak saya meninggal setelah dilahirkan dan masih banyak khayalan lainnya. Intinya yang bisa membawa saya pada fakta I should have big brother who will treat me very well

Hingga detik umur saya yang sekian ini pun, perasaan I do want to have a brother itu masih ada lho. Meskipun udah berkurang dan ga separah sebelum-sebelumnya. Mungkin beberapa teman merasa saya dekat dengan teman laki-laki itu kok kayaknya gampang banget ya (Nurin said that!), mungkin karena I've that reason! Seringkali saya menganggap mereka sebagai Big brother yang mau dengerin keluh kesah saya, yang mau saya recokin, yang mau saya usilin and vice versa. Well, sejujurnya saya iri sekali lho sama Nurin yang punya segudang (karena ga tau jumlah aslinya berapa) big brothers dirumahnya, hehe. 

Kadang-kadang saya juga mikir, saya ini waras ga sih dengan penyakit brother complex ini? Iseng-iseng saya cari deh kasus brother complex di internet, terus nemu ceritanya Kyouya's Girl di ask yahoo yang muirip sekali dengan saya, except a real loving family's problem. Rasanya pas baca tulisan dia itu, GUE BANGET! Cuma ya kayaknya I feel so normal kok, ga harus pake psikiater. Gimana menurut kalian? Oh, yang pengen tahu ceritanya coba klik sini.

Terus karena saya merasa ga terima masalah psikiater dan mental trauma yang dikait-kaitkan dengan brother comlex, saya putuskan untuk mencari definisi sebenarnya,
Extreme non-romantic love for ones brother, sometimes similar to worshiping the ground they walk on - Urbandictionary.com
Kurang lebih maksudnya adalah perasaan suka berlebihan kepada saudara laki-laki yang terkadang kita seperti memuja apapun yang mereka lakukan. Lalu saya merasa seperti orang linglung, so how come sepanjang hidup ini saya merasa punya brother complex kalo ceritanya jadi lompat jauh gitu? Kebingungan ini berlanjut lagi setelah saya baca contoh kasus dalam sebuah percakapan yang saya capture dibawah ini.


taken from urbandictionary.com
Saya aja saudara laki-laki ga punya, gimana bisa dibilang pengidap brother complex! Lha, terus yang saya alami ini namanya apa dong kalo bukan brother complex??


(fatimahghaniem - 12 Januari 2013)

P.S. : dan saya baru ngeh, kalo tittle-nya possibly brother complex without having a brother -.-

Hari ke-10 : I am the Only Child

Tidak menjamin menjadi seorang anak tunggal itu enak, serba dimanja dan diturutin kemauannya. Tidak-tidak.. kalian salah besar kalo punya pikiran seperti itu, tidak semuanya menjadi anak tunggal itu laksana putri agung dalam istana.

Yes! I'm the only child in my little family! Ada sebuah tanggung jawab besar yang saya emban sebagai seorang anak tunggal, dan lagi saya PEREMPUAN! Ketika semua orang meneriakkan jargon feminism movement dan equality baik secara teori maupun praktik, well nyatanya tidak semudah itu lho melaksanakan tren yang dibawa oleh masyarakat barat alias western tersebut.
“When a man gives his opinion, he's a man. When a woman gives her opinion, she's a bitch.” ― Bette Davis
taken from care2.com
Itu pendapat Bette Davis yang mengkritisi status sosial perempuan di mata masyarakat yang kurang lebih artinya gini, ketika seorang pria memberikan pendapat, maka ia adalah pria sejati. Ketika perempuan berpendapat, ia seperti halnya perempuan jalang.

Bagi saya, kesempatan dan kebebasan memilih cara untuk aktualisasi diri sebagai perempuan adalah definisi sebenarnya feminism movement. Tidak ada kaitannya dengan gender equality, kalaupun iya karena kami, perempuan menginginkan kesamaan kesempatan untuk menikmati dan mencari jati diri. Nah, dari tulisan tersebut saya jadi berpikir lho, bahwa mungkin hal-hal yang membatasi feminism movement di negeri kita yang menganut eastern ini juga karena paradigma tersebut. Bahwasanya sedikit saja kita, kaum perempuan berbicara itu seperti halnya menantang etika dan norma yang berlaku. Well, saya juga merasakannya lho terkadang. 

Terus kaitannya apa sih dengan saya yang anak tunggal? ada kok, walaupun sedikit haha. Intinya sudah saya sampaikan diatas, bahwasanya anak tunggal itu memiliki tanggung jawab yang bisa dibilang lebih besar dari kalian yang punya saudara. Karena tentunya, akan lebih banyak tuntutan yang harus dilunasi dari setiap ekspektasi dan harapan orang-orang di sekitarnya. 

Dalam kaitan saya sebagai anak tunggal dan perempuan, alhamdulillah saya bersyukur memiliki orang tua yang pengertian dan tidak memanjakan saya, mereka adalah orang-orang kuat yang selalu bisa menguatkan ketika saya jatuh karena tuntutan tersebut. Sebegitu banyak tuntutan terkadang membuat saya ingin menyerah dan melupakan seluruh mimpi-mimpi saya, tetapi selalu ada orang-orang terbaik yang dikirim Sang Pencipta untuk mendukung dan menguatkan saya. Termasuk didalamnya adalah kedua orang tua saya. Mereka selalu mengingatkan bahwa tuntutan tersebut adalah cambuk bagi saya untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik nantinya.

Akhirnya, saya menarik kesimpulan dari siklus kehidupan yang saya lalui ini. Bahwasanya di setiap kesempatan berharga untuk membuktikan diri kalian, akan selalu ada jalan terjal yang harus dilalui demi menggapai mimpi yang semestinya. So, jika kamu, perempuan sebagai anak tunggal bisa menikmati, menjalani dan melewati tuntutan-tuntutan tersebut, berbanggalah karena kamu adalah the truly great child for your parents and surronding!

Bagaimana dengan saya? I'm on the process of it

 (fatimahghaniem - 12 Januari 2013)

Thursday, January 10, 2013

Hari ke-9 : Arsipkan Teorimu!

Kemarin, aku merasa dikutuk Tuhan.
Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?
Bisa jika kamu pernah merasa hancur lebur setelah ditebas habis badai topan

Benar, Duniaku mendadak runtuh karena peluru ketakutan yang ditebarkan oleh orang-orang di sekelilingku,
Rupanya keletihan juga berimbas pada kekuatan batinku,
Aku jatuh tersungkur, merengek dan mengais menanam penyesalan
Dikarenakan duri yang kutanam selama beberapa bulan terakhir ini.

Ah, aku terlihat bodoh menghadapi realita,
Lihat! Teori yang telah kuarsip rapi saja sedang menertawakanku dengan sombongnya,
Ternyata kamu mudah ya dilenyapkan, katanya kemarin.

Kau memang pantas untuk itu!
Berapa kali kamu sudah mengeluh kemarin? Tak terhingga!
Dan lagi-lagi kamu jatuh dalam lubang perhatiannya kan?
Selalu begitu, menguatkanmu untuk maju.
Kapan kamu mau berdiri dan bangun sendiri?

Hahaha, berisik sekali kamu, aku sedang bekerja membangunnya!
Akan lebih mudah jika kamu diam tidak berkomentar!

Cih, perkara kecil karena sebuah angka saja kamu jatuh tersungkur, 
Lalu bagaimana kamu hidup tanpa aku?
Kamu pasti sekarang sudah mati menangis dalam kesendirian.

Baiklah, teruskan saja ocehanmu, 
kamu kuarsipkan memang untuk menjadi pengingatku yang paling hebat.
Membantuku untuk tetap selalu berfikir positif dalam setiap langkah yang ku ambil,

Seperti halnya hari ini, caramu mengingatkanku membawaku pada sebuah keberuntungan,
Kamu selalu membuatku bersyukur karena telah mengarsipkan kamu,
Membuatku bersyukur untuk kembali mencintai Tuhan beserta setiap keajaiban yang dibawanya kepadaku,

Hey arsip teoriku, kamu, dan kedua orang tuaku, 
Terima kasih atas dukungan kalian,
Terima kasih atas nasihat kalian,
Terima kasih atas perhatian kalian,

Terima kasih juga karena kalian selalu ada disisiki sampai detik ini,
Aku mencintai kalian beserta setiap jengkal kata-kata yang kalian salurkan untukku.
Mari, arsipkan teorimu dan pahami siapa kamu!



(fatimahghaniem - 9 Januari 2013)

Tuesday, January 8, 2013

Hari ke-8 : Behind The Scene

Hari ini sedang linglung mau cerita apa, jadi saya mau mengenang teman-teman Drama II kelas C yang sudah meluangkan banyak waktunya untuk sebuah karya yang patut dikenang, Behind The Scene The Movie yang sukses ditampilkan pada pagelaran BPOL (Big Project of Literature) di Sasana Budaya, Universitas Negeri Malang tepatnya pada hari Sabtu, 5 Januari 2013 lalu.

Crew Film Behind The Scene bersama Dosen Pengampu,
Bapak Taufan Hendro Baskoro, S.S.

Kenapa pada akhirnya saya memilih bercerita tentang mereka? Hmm.. mungkin karena besok akan menjadi hari terakhir kami untuk berkumpul bersama sepanjang semester ini. Kebetulan juga, Interview Session untuk UAS kami mendadak dimajukan hari ini (seharusnya masih hari minggu), dikarenakan ibu script writer, @Atikaachan harus meninggalkan kota Malang demi KKN di kota Bandung pada hari sabtu. Yet, thank you so much for that, karena akhirnya kami sekelas bisa pulang ke rumah lebih cepat dan yang paling heboh akan berita ini adalah si Playboy @Awan_Kusuma yang bisa pergi naik gunung secepatnya pada hari jumat.

Oke ga penting! Jadi, yang jelas meskipun saya tidak memiliki kontribusi sebesar kawan-kawan seperti @Awan_Kusuma, @Dhimassamihd, Rara Arifia dan @nandayubadiah yang hobby nongkrong hingga malam hari di wifi zone cafetaria setiap harinya demi membahas scene per scene yang perlu direvisi sana-sini,  saya amat bersyukur dan bangga menjadi bagian dari mereka. Menjadi bagian dari crew film Behind The Scene yang fenomenal oleh teriakan penonton ditengah-tengah penayangan film sabtu lalu atau mungkin karena teriakan Novika, si pemeran Rachel pacarnya Danny yang sungguh sanggup membuat tebal kantong dokter spesialis THT? Hmm.. Fenomenal atau tidak mungkin bukan tujuan utama tapi merupakan bonus apresiasi dari penonton. The most important thing yang bisa didapetin sih, karena ada kesenangan tersendiri karena bisa mengenal dan bekerja bareng bersama teman-teman Drama II kelas C yang dipimpin oleh kapel @iqbalfebrianp yang paling TOP walaupun susah menemukan kapan mukanya keliatan ga ngantuk. 

@iqbalfebrianp act on the last scene

Well, besok mungkin akan menjadi akhir kebersamaan kami yang ganjil, yang memang tidak pernah lengkap ngumpul setiap kalinya meeting. Namun, kebersamaan yang terbangun karena film yang kami agung-agungkan di penghujung semester ini pastilah memiliki kenangan tersendiri dalam hati kami masing-masing. Seperti halnya judul film kami, Behind The Scene yang sangat merefleksikan memori balik layar yang menyimpan kenangan manis dan pahit kebersamaan itu, dan tentu ga akan semudah menekan alt+ctrl+del untuk menghapus data di laptop kamu. Maka, sejuta rasa terima kasih ingin sekali saya sampaikan kepada seluruh teman-teman crew film serta panitia global BPOL atas suksesnya project film tahun ini yang menyumbang special moments dalam kehidupan saya. Tidak perlu saya sebutkan satu-per-satu, tapi nama kalian sudah terukir indah dalam memori otak saya yang paling special. Sampai jumpa dilain kesempatan, BTS! Sukses selalu untuk kalian :)

The end of The Premiere Film

(fatimahghaniem - 8 Januari 2013)


P.S. : Bagi yang penasaran dan pengen tahu cuplikan proses pengerjaan film Behind The Scene, yuk tengok dan baca postingan @nandayubadiah di blog kertas kusutnya yang berjudul BTS : Reading. Enjoy!

Hari ke-7 : Celoteh Kami, Para Perempuan!

Semua orang sebenarnya sama saja, perempuan dan laki-laki. Keduanya suka ngomongin kelebihan dan kekurangan lawan jenis, jadi ya ga usahlah sok menilai gender lain lemah dan salah. Semua sama aja, manusia yang tidak sempurna tempat salah dan dosa. 

Banyak laki-laki yang bilang perempuan itu rumit dan susah dimengerti. Well, silahkan berceloteh riang semau kalian wahai kaum adam! Karena disini, saatnya kami kaum hawa yang berceritera tentang kalian. Perlu kalian ketahui, ini bukan hanya komentar pribadi saya, tapi juga hasil dari perbincangan singkat selesai ujian bersama Nony, si wanita tangguh dan Nia, si wanita dewasa. Mari kita bahas kasus per kasus!

1. Tukang bikin lama
Keluhan laki-laki biasanya seperti ini, "Cewek itu ribet deh, hobbynya bikin lama lagi." Well, bagaimna kalau kita balikan begini, "Yang janji jam 8 jemput itu siapa, yang jam 9 juga belum bangun siapa." Jadi sebenarnya siapa yang hobby bikin lama?

2. Tukang paksa
Kebanyakan kaum adam itu tukang paksa, menurut kami. Mereka sangat pintar memberi alasan jitu yang membuat kami akhirnya tidak tega untuk menolak permintaan mereka. Sebaliknya, saat giliran kami memaksakan permintaan, seribu alasan bisa mereka siapkan untuk menolak permintaan tersebut. Benar bukan?

3.Tukang Manja
Mereka bilang perempuan itu manja. Kemana-mana minta anterin dan ga bisa mandiri. Tetapi, sebenarnya laki-laki itu juga manja dalam konteks merengek-rengek supaya keinginannya diturutin. Gaya mereka merengek itu bermacam, mulai minta anterin kemana-mana, ngomel hal-hal sepele seperti kemana kita kalo pergi ga ijin, intinya buat laki-laki itu You have to fulfill what I want from you!

4. Tukang nuntut pengertian
Hellooow? siapa bilang cuma perempuan yang selalu nuntut pengertian? sadar atau ga kaum laki-laki adalah makhluk yang paling sering minta dingertiin. Sms sekali aja ga dibalas, udah nyindir ga selesai-selesai. Coba kalo disindir si perempuan masalah sms, pasti sejuta pembelaan sibuk dan apalah selalu menjadi tameng terhebat. Kadang juga ga ngerti sikon kapan waktu yang pas buat bercandaan, padahal sendirinya minta dingertiin kalau lagi serius. Oh boy, we really do not understand your complicated life -.-

5. Tukang banyak maunya
"Eh, tolong ingetin dong, nanti hari minggu ada rapat," minta si laki-laki. Dalam hati kami para perempuan, "kenapa ga pake fungsi reminder di hape aja sih?" meskipun in the end, kami melakukan apa yang mereka minta.

Jadi, gimana? masih ga boleh ya kalau kami kadang-kadang protes dan menuntut? kalau mau di puter ulang beberapa kasus tersebut, sebenarnya konyol sih tapi kadang juga dongkol ngelihat kelakuan kalian. Masih mau perang lagi? tidak masalah, kami siap kok untuk mempertahankan harga diri kami sebagai perempuan.

salam damai dari kami para perempuan, dan SEMOGA kalian bisa mengerti ya.


(fatimahghaniem - 8 Januari 2013)

Sunday, January 6, 2013

Hari ke-6 : Bukan Sleeping Beauty

Minggu pertama bulan januari 2013 akan menjadi hari termalas saya yang pertama. Ini sudah luar biasa sekali lelahnya setelah sukses menimbunnya berhari-hari. Sayangnya yang saya timbun adalah keletihan, kalo duit mungkin hari ini saya siap pergi belanja, membeli rok atau sepatu baru bersama duo partner saya, Nadia dan Nony, hahaha.

Lupakan soal omongan rok dan sepatu, tidak ada hubungannya dengan apa yang saya bahas sekarang. The thing that I want to do for today adalah tidur sebanyak-banyaknya! Ini adalah harga mati untuk imbalan dari bermacam bentuk kegiatan seminggu lalu yang sukses menyita waktu tidur dan istirahat saya. Totally, saya ingin menjadi sleeping beauty yang terus tertidur sambil menunggu pangeran ganteng membangunkan saya. Entah sampai kapan waktunya, yang jelas nanti saat saya terbangun seperti halnya manusia yang terlahir kembali, saya akan merasa siap dan fresh untuk melanjutkan hidup.


Tetapi sayangnya itu hanya ilusi dan mimpi belaka! Demi apa hari minggu yang merupakan saat tepat untuk tertidur, lagi-lagi saya harus dan wajib terbangun (bahkan masih dengan pegal-pegal tersisa di punggung dan leher) dengan menghadap laptop pinjeman lagi, mengerjakan tugas lagi dan mengejar deadline lagi tentunya. Damn you, KWN dan Travel Writing!

Hmm.. sudahlah, beginilah nasib seorang mahasiswa! Mahasiswa bukanlah seorang sleeping beauty yang cuma perlu tidur dan terbangun menemui kebahagiannya. Mahasiswa adalah seorang yang terus bersemangat dan berusaha demi mencapai kebahagiaannya. Hidup Mahasiswa!


(fatimahghaniem - 6 Januari 2013)

Well, selamat mengerjakan tugas buat saya, kamu dan kalian semua Mahasiswa Indonesia!