Monday, May 13, 2013

Harus Kuat!

Selalu ada tujuannya dibalik segala peristiwa, termasuk tujuan kenapa Sang Maha Pencipa mengenalkan saya akan dunia penuh godaan kesenangan muda yang berimbas penyakitan itu. Sang Penguasa Alam sedang menguji kekuatan saya! :')

@fatimahghaniem - 13 Mei 2013

Sunday, May 12, 2013

Melemah itu Menyebalkan!

That’s not an easy thing to be talked here, tapi yang jelas ini kerasa banget betapa saya sedang kesal dengan kelemahan saya ini. Selalu, selalu berakhir begini jika harus berurusan dengan hal seperti ini. Itulah kenapa saya selalu tidak suka hal ini, selalu berusaha menghindarinya dan selalu bersikap acuh terhadapnya. Karena saya tahu, sekali saja saya terjerumus.. maka saya akan teracuni perlahan-lahan dan pasti akan melemah kemudian penyakitan. Iya, penyakitan yang mengeluarkan segala hal yang ga saya banget, yang kalaupun saya punya kadarnya ga over, yang selalu saya tutup-tutupi dan hindari sepanjang hidup saya.

Saya selalu suka terlihat kuat dan kokoh, dan bukannya melemah seperti ini. Menjijikkan! From now on, saya ga mau lagi melemah! Saya akan kuat! Dan saat ketika saya mulai acuh dan menghindar nanti, jangan pernah mencoba untuk terjerumus lagi! Hentikan, sudah saatnya saya beranjak dan belajar dewasa akan hal ini! Cari tempat yang tepat dimana saya bisa menjatuhkan diri tanpa perlu membuat diri melemah dan penyakitan seperti ini! Go strong, my dearest-self!

yang  sedang bersedih hati
@fatimahghaniem - 12 Mei 2013

Sunday, April 14, 2013

Belajar Ikhlas Itu Susah!

Benar! hidup itu soal pilihan.. Susah sekali memutuskan mana yang harus kamu jalani lebih dulu. Terkadang aku takut menjadi manusia yang tamak akan penghargaan dan melupakan kedua orang tuaku, tetapi di sisi lain, saat ada kesempatan datang aku pun tak ingin menyia-nyiakannya.

Saat aku mulai mengabaikan kesempatan, disanalah aku belajar ikhlas. Mengikhlaskan yang berat demi sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kedua orang tua. Aku kangen dan rindu mereka, berbicara ditelfon tidak akan mengurangi kadar kangenku pada keduanya. I need their hugs. I want to sleep together with them.

Tapi, apalah daya jika godaan untuk mengejar kesempatan itu datang lagi? siapa yang mampu menolak? Ya Rabb.. jika memungkinkan, biarkan aku mendapatkan keduanya. Meleburkan rindu yang membeku setinggi gunung es ini bersama kedua orang-tuaku dan mengejar asa yang tetap membara dalam hati..

yang sedang merindukan rumah dan kedua penghuninya yang paling dicinta,

@fatimahghaniem

Friday, March 22, 2013

Jengkel

Dulu aku benci sekali mendefinisikan apa itu cinta bahkan untuk sedikit peduli tentangnya aku merasa jijik, bagaimana dengan sekarang? aku kelewat tidak peduli dan kebas akan romansa. Siapa bilang aku trauma? aku bahkan tidak mengenalnya. Siapa bilang aku tidak pernah terjerumus? Hey, aku manusia normal yang juga memiliki rasa dalam menjalani hidup. Hanya saja, aku tak pernah bisa berceri-tera tentangnya.

Hanya satu hal yang mengganjal pikiranku sekarang, yang membuatku repot-repot membuka blog dini hari ini.. aku sedang amat sangat kesal. kamu tau kenapa? manusia dari belahan bumi manapun yang sok mengenalku, tidak akan tahu betapa ruwetnya otak dan hatiku seringnya bertabrakan. Karena jika ada seorang yang benar-benar mengerti, maka Ia tahu jawabnya betapa jengkelnya aku mengenal wangi sebuah cinta~

@fatimahghaniem - 22 March 2013

Thursday, January 24, 2013

Hari ke-24 : Alam Pun Bertasbih

Langit dini hari menyapa seraya bertasbih
Tatkala sang fana mulai berdzikir dengan lirih
Bintang berkilauan kedipkan cahayanya
Selayak malaikat bertasbih untuk ridhonya
                        Fenomena ilahi damaikan hati yang bimbang
                        Nurani berkata anggunnya sang bulan
                        Meskipun gelap akan diganti terang
                        Detik menjelang terang tak terungkapkan
Suara emas muadzin mampu getarkan kalbu
Alam bersahutan agungkan asma Allah
Semburat fajar yang merekah terlekat di angkasa-Mu
Gerakkan bibir untuk bertasbih, subhanallah..
                       Sebagian manusia tersada untuk bersuci
                       Bersiap sholat menghadap panggilan-Mu
                       Alam pagi ciptakan goresan bernuansa surgawi
     Angin pagi yang sejuk menyapa rerumputan bergoyang
     Seolah ikut sembayang Menghadapmu             
Sungguh besar keagunganmu, ya Robbi..
Ketika alam pun ikut bertasbih



P.S. : Yang merasa puisi diatas aneh, ada? boleh kok dilemparkan komentarnya dibawah postingan ini atau dimanapun sesuka anda asal bisa nyampe ke saya, ya. Saya akui, daridulu paling ga bisa bikin puisi. Puisi ini pun saya temukan di buku tulis Bahasa Indonesia saya saat duduk di kelas 10 sekitar 4,5 tahun silam. Ada sekitar 3 puisi yang ditugaskan saat itu, tapi saya rasa yang ini yang lebih cukup layak publish dari pada yang lain -___- 

Anyway, I should thank to @malessinau for this. Ingat sekali saya, dia adalah masterpiece puisi saat SMA dulu, dari tulisan berikut cara baca. Bahkan dulu Ia pernah menjuarai Musikalisasi Puisi tingkat kabupaten Pasuruan. Well, dialah sahabat yang mau membantu saya menyelesaikan tugas puisi diatas. Thank you, san. Thank you juga buat kamu yang nyempetin baca dan berkunjung di blog saya.

(fatimahghaniem - 24 Januari 2013)

Wednesday, January 23, 2013

Hari ke-23 : Dubidu Durian

Agak gimana gitu deh akhir-akhir ini sama buah maha legendaris bernama durian. Tengok kanan-kiri di sepanjang jalan, isinya durian semua. Tidak hanya di sepanjang jalan, di beberapa blog list saya milik itamitum dan fakhri's scribble juga nulis tentang durian. Setelah ditelisik, baru ngeh kalo sekarang lagi musim durian. Selamat berkuasa deh, wahai sang biduan durian!

Omong-omong, saya baru sadar penyuka durian di muka bumi ini banyak jika dibandingkan dengan yang tidak suka. Asal comot sampel sih, tetapi dari dua pemilik blog diatas (termasuk keluarga dalam cerita mereka) ditambah hampir seluruh keluarga saya, adalah orang-orang penikmat durian nomer satu. Nah, kalo dibandingkan dengan eksistensi kakak sepupu saya, sebagai the only one yang paling anti sama yang namanya durian, maka mungkin perbandingannya 25 : 1. Emang itu bener? ya anggap saja begitu deh biar ga ribet, namanya juga asal comot sampel.

Yang paling saya suka dari durian itu sebenarnya cuma satu, waktunya berkuasa didepan kakak sepupu saya yang notabene benci setengah mampus sama yang namanya durian. Segala macam bentuk makanan berperisa durian pun, dia ga suka. Well, saya jadi melihat kesempatan emas, kalo ada makanan atau minuman enak di rumah tinggal saya bilang "ini ada duriannya lho, enak banget. Mau?" responnya cuma satu dan selalu sama; "Yek!" dan langsung ambil langkah seribu. Padahal sebenarnya ga ada durian di dalamnya, haha. 

Kakak sepupu saya ini terbilang parah sekali phobia duriannya, dulu pernah dia muntah 2 kantong plastik hanya karena mencium bau durian dalam radius 10 meter! Padahal udah sukses tersembunyi di ujung dapur belakang rumah tapi dia udah huek-huek tepat setelah masuk membuka pintu depan rumah. Luar biasa deh!

Keluarga saya dulu juga hobby sekali pergi ke tempat perkebunan durian ketika sudah musimnya durian seperti ini, klau sekarang sih jarang bahkan hampir ga pernah. Hal yang paling disyukuri oleh kakak sepupu saya sekian tahun terakhir. Saya jadi ingat pertama kali saya makan durian dulu, saya sampe harus dipaksa buka mulut dan dicekoi durian oleh tante saya. Kenapa harus gitu? Ini ga tau karena kualat kakak sepupu saya atau emang bawaan, tapi saya agak kurang tahan kalo sama durian.

Bukan, bukan berarti saya benci durian. Saya biasa-biasa aja, bukan pecinta ataupun pembenci durian. A simple trouble setiap kali saya makan durian, ambillah 2-3 biji itu udah bikin saya geliyengan, pusing ga karuan. Jangankan makan, baunya aja super sekali. Pertama bikin pusing, lama-lama bikin eneg. Kemarin pun, ketika saya melihat berjajar-jajar orang jualan durian, saya harus tahan nafas kalo ga mau saya pingsan dijalan. Baunya itu nusuk sekali di hidung sampai ke kepala. Oh, durian kamu nyiksa sekali..

Bicara durian olahan, seperti permen, es berperisa, roti durian dan lain sebagainya sebenarnya saya suka-suka aja. Meskipun awalnya rada, "aduh duren!" tapi ya saya makan juga, cuma kalo sampe bau duriannya ada dan menyengat, saya harus makan dengan kondisi hidung tersumpal! Memiliki indra penciuman yang rada bermasalah seperti saya memang susah, terkadang sulit membaui sesuatu tetapi ga pernah tahan dengan bau menyengat dan menusuk hidung.

http://pelancong-medan.blogspot.com

Well, ternyata warna-warni cerita durian itu banyak sekali ya, dan beragam! Ini cerita durianku, bagaimana ceritamu? *nyomot iklan*

(fatimahghaniem -  23 Januari 2013)

Tuesday, January 22, 2013

Hari ke-22 : Selamat Ulang Tahun

Aku menemukan sebuah diary lusuh yang sudah sekian tahun tak tersentuh. Aku mulai membukanya, mencoba menyelami kenangan yang tertulis disana kala masa itu. Aku mulai tersenyum-senyum sendiri, menertawakan kebodohan demi kebodohan yang pernah ku tulis disana. Namun, tiba-tiba aku tersentak membaca halaman ketiga dari buku diary itu. Disana secara mengejutkan tercetak namamu beserta ukiran pertemuan terakhir kita, 6 tahun silam.

Dalam diary setebal itu, hanya ada 5 baris yang menceritakanmu. Tetapi, dengan itu saja mampu mengantarku pada memori yang selama ini paling kuhindari untuk kujamah. Karena aku tahu, memori ini akan menjalar cepat layaknya bisa ular yang menyebar dalam tubuh melalui darah, menyerang diriku habis-habisan hingga lumpuh karenanya.

Secepat itulah memori-memori pertengkaran kecil kita dulu memutar dalam bioskop otakku. Pertengkaran-pertengkaran tak berujung, saling tuduh yang selalu berakhir dengan kemarahanku, bahkan saling tidak sapa. Sangat kekanak-kanakan sekali kita dulunya, tak pernah mau mengalah siapa yang harus minta maaf terlebih dulu. Kalau bukan karena wali kelas kita yang sudah kepalang lelah mendamaikan kita, tak akan ada kata maaf meluncur dari mulut kita berdua.

Aku jadi tertawa, mengingat pertemuan terakhir kita. Sungguh keajaiban sekali kamu melontarkan kata maaf itu terlebih dulu, atau mungkinkah karena kamu tahu kita tak akan pernah bertemu lagi seperti sekarang ini?

Besok tanggal 22 januari ya? Suara hatiku ini sukses membuatku kembali terlempar ke dalam lubang kenangan masa lalu. Ketika seseorang tengah mencari data tentangmu dan kamu tak mau memberinya. Dengan gigih, ia menemukan data dirimu di tumpukan buku-buku di lemari kelas kita dulu. Namun, sepertinya ia membutuhkan kepastian dan kembali memilih untuk bertanya padamu, “Kamu lahir tanggal 22 Januari kan? seperti yang tertulis di buku ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah buku tulis bersampul cokelat.

“Anggap saja begitu, itu tidak penting,” jawabmu sambil lalu, dan kembali bergurau dengan sahabatmu.

“Kamu ini, itu kan untuk keperluan pendataan. Tentu penting! Cepat katakan yang sebenarnya!”

Sungguh aku jengkel sekali melihat tingkahnya yang sok dan tak peduli saat itu, maka serta merta kukatakan, “Ya sudah li, kalau dia ga mau. Ga penting juga data dia buat Pak Imron.”

Aku tahu dia pasti balas mencerca dan aku sudah siap melawan seperti biasanya. Tetapi aku salah, kali ini ia tidak biasanya. Ia hanya diam dan melengos pergi meninggalkan kelas. Amalia, temanku yang tadi menanyakan untuk pendataan malah dengan polosnya berlari mengejarnya demi mendapatkan kebenaran data tersebut.

Hari itu ya, Aku tertawa mengingatnya, tentu saja ia tak akan berani mencari masalah lagi setelah ancaman dari Pak Imron, wali kelas kami untuk membantuku menciptakan kedamaian kelas dan bukannya bertengkar denganku sebagai partner pimpinan kelas. Ya, aku ketua kelas dan dia adalah wakilnya.

Aku menghela napas panjang, takut sesak nafas karena memori-memori itu kembali berkeliaran. Menimbulkan beribu tanya yang tak pernah ada jawabnya, kapan kita akan bertemu lagi?

Kututup kembali diaryku dan meletakkannya ditempat yang seharusnya tersembunyi dan susah kutemukan nantinya. Berharap dengan begitu, kenangan yang tersingkap itu kembali tidur tenang.

30 menit telah berlalu dan aku belum bisa terlelap. Penujuk waktu sudah menunjuk angka 12, aku tersenyum. Baiklah aku menyerah, sehari ini saja ku biarkan kamu meraja lela di istana memoriku. Silahkan menari dan menyanyi sepuasmu, anggap saja ini kado untukmu. Terlepas dari benar tidaknya leluconmu, aku mengirim sebuah doa untukmu yang entah dimana sekarang. Sudah saatnya tidur, aku pun segera memejamkan mataku. Namun sebelum itu, bibirku mengatankannya dengan lirih, “Selamat Ulang Tahun, Theo!”


(fatimahghaniem - 22 Januari 2013)