Thursday, January 17, 2013

Hari ke-17 : Awal Perjalanan Kami

DBL ARENA!

Ada yang bertanya kenapa postingan kali ini hanya berupa foto-foto saja? Terlalu banyak tulisan juga bosan kan? ini jawaban lempar pertanyaan yang berunsur alibi sekali, haha. Mungkin lebih tepat alasannya karena sepertinya keletihan menyebabkan ide-ide tak betah hinggap di otak kemudian terbang tinggi mencari sarang yang lebih nyaman untuk ditinggali dan menyemai mereka menjadi sebuah hal konkret yang bermakna. Hahaha, masih rumit memahaminya? salahkan penyakit malas yang sedang hinggap dalam diri saya :| 

Singkat saja, hari ini saya dan @itamitum telah memulai perjalanan panjang kami menuju dunia awal kerja melalui program PKL. Tidak tahu pasti akankah kami benar-benar memulainya di tempat yang dengan bangganya kami capture bersama-sama. Semangat kami untuk berusaha seperti halnya kata orang bahwa berusahalah tiada henti hingga nanti nafas kan meninggalkan raga. Semoga nanti, the destiny memang memberikan jalan kepada kami di tempat yang terbaik, tempat yang juga menjadi pilihan kami. Selamat menikmati moment-moment awal perjalanan kami!

Didepan pintu masuk bagian barat DBL ARENA 

















Didepan Kantor JTV









Suasana Halaman Belakang Kantor JTV



Iya tau ini foto narsis sekali, tetapi mengingatkan kami pada ruangan mempesona di dekat kamar mandi ini :)



GRAHA PENA JAWA POS GROUP



This is the first time I explore all the buildings even though Nurin and I only goes on the surface. Yet, it is really gorgeous! This is one of some places I always dream to be visited since I was on Junior High School! The time might fly but the hope to be one of the teams had never gone! See you next time, Jawa Pos Group!

(fatimahghaniem - 17 Januari 2013)

Wednesday, January 16, 2013

Hari ke-16 : The Heavenly Couple

Liburan memang identik dengan bermalas-malasan, tapi bakal asyik kalo kamu punya segudang film atau buku untuk dilahap. Sayangnya saya ga ada rencana mengoleksi tumpukan film dan buku untuk liburan ini, karena justru saya lagi pengen melancong atau travelling kemana gitu. Tetapi namanya juga belum takdir, dikarenakan suatu hal I should stay at home.

Dua hari yang lalu, saya menemukan novel berjudul The Heavenly Couple yang tergeletak di antara buku-buku di meja belajar yang dipinjamkan adik sepupu saya sekian bulan silam yang saya bahkan ga ingat kapan. Well, lumayan kan buat mengisi waktu luang? Berikut review novel tersebut versi saya. Selamat menikmati!

The Heavenly Couple adalah jenis novel yang cukup romantis, tidak terlalu menye-menye yang melulu menceritakan kisah cinta remaja. Novel ini bercerita tentang sepasang suami istri muda bernama Majid dan Malihe yang mendapat kesusahan dalam menjalani kehidupan mereka dikarenakan label kriminal yang didapat Majid setelah dituduh mengetahui jejak adiknya yang kabur dari penjara akibat gerakan revolusioner yang diikutinya. Oleh karena itu, Majid memilih untuk berimigrasi keluar negeri, dan pilihannya jatuh ke Turki. Namun, Majid sebagai seorang yang dicap bahaya dan extremest tidak memiliki hak atas paspor. 

taken from
komunitasbacabuku.com
Malihe adalah istri yang sangat baik dan teguh pendiriannya. Baginya sosok ibunya adalah figur teladan untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang istri. Dari sinilah keputusannya untuk menemani Majid berimigrasi lahir. Ia rela bersusah payah menemani Majid menyelundup hingga perbatasan bersama kedua anaknya, Mahdi dan Shaba. Malihe juga rela mengantri demi mendapatkan visa di kantor PBB, karena Majid tidak bisa berkeliaran secara bebas. Tidak hanya polisi tetapi jga kawan-kawan revolusioner Hosein, adik Majid yang kabur dari penjara pun mengejar keberadaan mereka. Perjalanan mereka memang tidak mudah, banyak hal terjadi diluar perkiraan mereka apalagi menghadapi tanah airnya, Iran pasca perang. Beruntungnya mereka bertemu dengan pasangan suami istri yang baik hati bernama Nyonya Golin dan Tuan Akram Afandi yang memberikan mereka pekerjaan dan tempat tinggal sementara pada masa pelarian keluarga kecil tersebut. 

Ceritanya cukup menarik lho dari awal hingga penghujung cerita, Manije Armin penulis novel ini benar-benar mengantarkan kita pada suasana Iran pasca perang yang mana tidak hanya perang yang membuat penduduk setempat resah tetapi juga keberadaan extremist revolusioner yang bergerak untuk kepentingan organisasi misalnya. Jalan ceritanya pun seru untuk diikuti dan membuat penasaran.

Sayangnya, novel The Heavenly Couple ini menurut saya tidak mencapai klimaks dan penyelesaian yang bagus. Terkesan tergesa-gesa mengakhiri cerita dan tidak jelas maksud dari penyelesaian dan endingnya yang agak sedikit menggantung. Selain itu juga, tidak ada keterangan berupa footnote atau glosarium penggunaan bahasa parsi yang kadang muncul di novel ini. Tetapi, overall novel ini cukup recommended buat kamu-kamu yang pengen mengisi waktu luang. Lumayan kan, bisa menyelami Iran dan nasib penduduk setempat yang resah akan kehidupan mereka.

Terakhir, ada semacam quote favorit novel ini yang menjadi kekuatan terbesar Malihe untuk berbakti kepada suaminya. Quote yang disampaikan ibunya Malihe yang menjadi prinsipnya untuk teguh menemani suaminya disaat apapun. 
"Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan - The Heavenly Couple"
Tidak menuntut perintah, tapi manis untuk dilaksanakan. Benar tidak? 


(fatimahghaniem - 16 Januari 2013)

Tuesday, January 15, 2013

Hari ke-15 : Galau Itu Apa?

Postingan ini special buat semua orang yang sudah mengklaim saya galau semenjak postingan cerpen kemarin. True! ini bentuk pembelaan saya, karena kayaknya nyerempet dikit masalah percintaan semua orang langsung bilang galau, sedih dikit dibilang galau, ngomel dikit dibilang galau. Terus senggol dikit galau, bacok udah ga laku kali ya? mungkin karena parangnya udah tumpul :|

Jadi sebenarnya definisi galau itu apa? Standart dan parameter galau itu sebenarnya gimana? yuk cekidot hasil telusuran saya!

Berikut adalah postingan status seorang teman yang menulisnya di akun google+ 

Setuju sama kamu dik, emang bentuk nyata galau itu keadaannya seperti apa belum jelas.

Terus yang dibawah ini, menurut pendapat blogger yang saya ga tau namanya, klik disini aja kalo penasaran.
Kata galau bisa diartikan sebagai bentuk perkataan seseorang yang sedang mengalami pikiran yang tidak karuan atau dalam keadaan yang tidak menentu.
Baiklah, pikiran yang tidak karuan dan keadaan yang tidak menentu itu seperti apa jelasnya? katanya si empunya blog sih, galau itu sedih, bimbang, gelisah, bingung dan sebagainya. Lha orang sedih karena kehilangan orang yang disayanginya apakah sama dengan orang yang kebingungan cari alamat rumah? Ah, definisi ini agak sedikit memaksa, menyama-ratakan semua hal yang berakar pada pikiran yang tidak karuan. 

Asal comot definisi emang susah menemukan ke-valid-an-nya, yaudah langsung ngacir ke KBBI aja alias Kamus Besar Bahasa Indonesia!

                      
Anda bingung? saya juga :|
Tapi ternyata, definisi kacau tidak keruan memang ada di KBBI untuk istilah galau. Sayang tidak ditemukan penjelasan lebih jauh didalamnya, meskipun sudah saya coba meng-klik cari penggunaan lain kata galau.

Masih dengan ketidak-puasan yang menggelayut, saya cari kembali makna ataupun mungkin penjelasan dari istilah galau yang sudah meraja-lela terutama di kalangan remaja dan masyarakat umum yang lebih jauh lagi. 

Tarraa.. saya menemukannya di salah satu laman milik kompas, berupa opini yang menurut saya ringkas dan padat sekali isinya. Terima kasih Fandy Sido yang telah memberikan pencerahan kepada saya dan mungkin mereka yang masih meraba-raba makna sebenarnya galau. Yasudah, ga pake banyak bahasan lagi, langsung lahap saja opininya fandi di kolom opini kompasiana.com disini. Selamat menikmati!

(fatimahghaniem - 15 Januari 2013)

Monday, January 14, 2013

Hari ke-14 : Merindu

Aku akhirnya mencoba mengunjungi pantai hari ini, dan sudah kuhabiskan seperempat hari hanya untuk memandangi laut. Jangan bertanya aku sedang apa, aku hanya merindukanmu dan mungkin hanya laut yang bisa membuat rinduku ini mengering habis.

Kenapa harus pantai? Tentu saja, karena ini tempat favoritmu. Kamu tak pernah henti menceritakannya demi membuatku tergoda untuk mampir. Kamu pasti senang melihatku berdiri di tengah lautan pasir, meninggalkan jejak kakiku disana.

Aku ingat sekali kamu selalu bilang, pantai itu tempatmu melepaskan penat, menghapus duka dan menanam asa. Bersama laut, kamu bisa bercumbu dengan kuatnya karang dan kerasnya tamparan ombak. Menyadarkanmu akan arti keberadaanku, ya kamu selalu bilang aku adalah pengingatmu untuk selalu menjejak tanah dan meraih mimpi.

Lihat, hanya dengan menatap pantai aku bisa mengingat banyak hal tentangmu. Jangan marah aku tak pernah berkunjung kesini, bukan karena aku tidak ingin mengingatmu tetapi aku tak mau larut dalam kesedihan yang kamu tabur. Kamu harus tahu, merindukanmu saja sudah membuatku uring-uringan.

Ku tulis namamu didekatku berdiri, mencoba menantang ombak yang datang menghampiri. Seberapa sanggup kamu meraih dan merebut namanya yang kulukis indah disampingku? Aku tertawa ketika kulihat dengan mudahnya namamu terhapus oleh sapuan ombak. Kamu mungkin benar, ombak memang keras seperti kerasnya aku yang melarangmu pergi ke tempatmu berada sekarang.

Di ujung kanan sana, banyak sekali batu karang yang bersiul mengajakku untuk mampir. Dengan kesal aku melangkah menuju bebatuan tersebut, melompat perlahan menyampaikan makian karena pantai berhasil merampas kamu dariku. Lagi-lagi aku tertawa pilu, jatuh terduduk akibat lumut hijau yang marah karena aku telah melecehkan kuatnya karang. Aku kesal, karena kamu pergi tanpa kabar.

Kenapa kamu bilang aku mirip seperti laut? Aku sama sekali tidak seindah laut biru, tidak sedikitpun. Kenapa kamu bilang aku sekuat batu karang? Kamu terlalu naif menilaiku, aku rapuh tanpa hadirmu. Kenapa kamu bilang aku bagaikan tamparan ombak yang selalu kamu rindu? Aku bahkan sekarang membenci ombak yang membawa pergi dirimu entah kemana.

Kembali kuingat pertengkaran hebat itu, saat kamu lebih memilih pergi menyebrangi lautan hanya untuk sekedar memuaskan diri. Kamu bahklan memilih menghiraukan sejuta peringatan yang kuikrarkan demi menghentikan langkahmu sebulan yang lalu. Kamu lihat sekarang? Kamu hilang tak berbekas entah dimana.

Sekarang aku ragu dengan asumsimu. Kukira kamulah laut, batu karang dan ombak itu, bukan aku seperti yang selalu kamu sampaikan. Aku hanyalah pasir pantai yang merupakan butiran kehancuran sang karang, yang rapuh disapu ombakmu dan tidak indah tanpa adanya lautan. Aku, akulah yang membutuhkanmu, bukan kamu.  

Mendadak suara ringtone yang kurindukan itu menggema di tengah tangisan piluku, sejenak membuatku tertegun memandangi layar handphone yang mengedipkan namamu.

“Hai,” katamu diujung telfon. Kamu tahu aku bisu mendadak, tidak sanggup berkata-kata. Mendengar suaramu yang telah sebulan hilang, sudah sanggup membuncahkan tangisanku lagi. Tetapi tentu aku tidak mau menangis didepanmu, dan memilih membisu. “Kamu dipantai? Sedang apa?” Kata-katamu sungguh mengejutkan, membuatku reflek mencari keberadaanmu disekeliling pantai, tetapi kamu tidak ada dimana-mana. “Kamu merindukanku?” dan kamu tertawa kecil.

“Tentu saja!” Jeritku kesal. “Kamu sekarang dimana?”

“Masih ditempat ekspedisi pencarian paus, sedang apa kamu di pantai?”

“Bagaimana kamu tahu aku sedang di pantai?”

“Aku hafal suara ombak yang selalu memelukku,”

“Jangan sok puitis!”

“Kamu yang membuatku puitis akibat rindu yang sudah tertimbun”

 Aku tertawa, “Itu salahmu!”

“Maaf sudah membuatmu khawatir, disini susah sinyalnya. Secepatnya aku pasti pulang,”

Lihat, kamu selalu asyik dengan asumsimu, selalu begitu. Kamu seharusnya tahu aku disini sangat merindukanmu, menginginkanmu cepat kembali. Aku memang egois, melarang kesenanganmu demi ingin melihatmu selamat disini. Tetapi semua itu tidak ada artinya. Karena seperti yang sudah kukatakan, aku hanyalah pasir pantai yang tunduk akan ombak. Hanya mendengar suaramu saja, aku sudah lupa akan semua kegelisahanku terhadapmu. Hanya mengetahui kejelasanmu dimana saja, sukses membuatku lupa akan seluruh kesal dan kecewaku terhadapmu. Kamu lihat kan, sungguh kuat pengaruhmu terhadapku. Membuatku tak henti jatuh cinta kepadamu, seperti halnya hari ini kau membuatku jatuh cinta kepada laut yang membawamu kembali kepadaku.


(fatimahghaniem - 14 Januari 2013)

P.S. : Cerpen pertama yang saya publish di blog demi merealisasikan tantangan dari @AzuraMiuw_ Saya tahu ini jelek dan kepanjangan, saya memang ga ahli bikin cerpen! silahkan dihina-hina tidak masalah :) Oh iya, just information aja lho, inspirasi cerita ini sebagian besar dari kunjungan saya ke Papuma akhir desember lalu bersama teman-teman yang pernah saya ceritakan di short rush travelling. Terakhir, ini foto favorit saya, yang diambil sahabat saya @adityajanu. 



Hari ke-13 : Tentang Mereka

Inspirasi tulisan ini mungkin didapat setelah membaca blog sebelah milik @salsabilasasmi tentang alayers. Didalamnya dibahas juga tentang geng jaman SMA yang dibuat dengan nama alay dan sebagainya. Aseli saya langsung teringat jaman-jaman jahiliyah tersebut, tapi truly seperti yang dikatakan sasmi justru disanalah momen termanisnya.

Merangkai kembali momen-momen termanis yang pernah saya buat dengan well,let's say geng SMA, membuat saya akhirnya menyelami memori-memori yang tercetak manis dalam beberapa gambar berikut ceritanya.

tour ke mojokerto
best teammates
Berawal dari kesamaan karena desperately terjebak di dunia RSBI, kami (yang perempuan) akhirnya sering ngobrol dan curhat sana-sini seputar keseharian. Lalu datanglah proyek seni rupa yang mengakrabkan kami dengan hasan, billah, fani dan adit. Dilanjutkan dengan berbagai proyek kelas yang terus berdatangan seperti outbond, tour ke tempat sejarah di mojokerto, theatrikal hingga pada akhirnya kebersamaan kami dipisahkan oleh perbedaan kelas saat menginjak kelas 2 SMA.

Punya kesamaan minat dalam mendalami komik dan dunia jurnalistik, kami juga bergabung di mading sekolah. Saat kami kelas 2, kebetulan @adityajanu menjadi ketua umum Mading. Agak berasa seperti AADC gitu deh, kami sedikit banyak menguasai mading yang bahkan ga punya sekber tapi tetep eksis melalui keikutsertaan kami di DetEksi Con yang diadakan Jawa Pos Group. Itu banyak banget kenangan manis dan pahitnya, aaah.. serasa pengen terbang ke masa-masa itu.

nuwailah, aryn, saya, qanitah, vioryza
udah persis skuad sepakbola ya? -.-
Tidak hanya itu, rupanya minat untuk mengikuti KTI yang digembor-gemborkan saat SMA membuat kami penasaran dan tertarik untuk membuat penelitian bersama. Digawangi @malessinau, kami akhirnya meneliti pabrik tahu yang banyak terdapat di kota kecil kami. Disanalah muncul @yuntyansyah yang rela rumahnya dijadikan basecamp kedua bersama @ilham_irmansyah untuk melanjutkan penelitian tersebut. Kemudian, tarraaa.. tepatnya tanggal 12 Maret 2009 kami menetapkan hari jadi geng kami dengan nama tewebe family. Nah lho, artinya apaan tuh? Rahasia dong! #oposeh

1st anniversary @aryne1 home















jogja vacation

dinner at illy sewaktu @malessinau main ke malang
















Jangan salah lho, kami masih sering bermain bersama meskipun gak pernah selengkap dulu. Mungkin karena seiring berjalannya waktu, kami sadar kalau kami punya visi-misi yang berbeda. Apalagi ditambah perbedaan kampus yang terpencar di 3 kota jawa timur, surabaya-malang-jember. Namun, kalau memang ada kesempatan, kami pasti sempatkan waktu untuk sekedar bertemu dan main bareng, misalnya saat liburan, perayaan ulang tahun, anniversary atau tahun baru. Ah jadi ga sabar ketemu mereka liburan ini, bisa ga ya? 

last journey with them, papuma beach
saya yang merindukan kalian, si kenangan termanis :*

(fatimahghaniem - 14 Januari 2013)

Sunday, January 13, 2013

Hari ke-12 : Home!

Setelah absen dari @30haribercerita selama 2 hari, rasanya saya punya hutang gitu kalo ga posting genap sesuai tanggal hari ini.. hari ke-12! Untungnya saya punya banyak hal yang ingin diceritakan, walaupun ngerjainnya udah kayak sinetron kejar tayang dari jam setengah 7 tadi sampai sekarang menjelang pukul 12 malam. Hmm.. saya udah kayak cinderella belum, yang jam 12 teng udah harus pulang terus bobo' manis di rumah?

Hari ini, yang paling special adalah saya menginjakkan kaki di rumah orang tua saya dan sekarang bisa duduk manis didepan PC saya yang sudah bocel-bocel tapi tetap setia meskipun pernah saya duakan dengan laptop yang telah pergi meninggalkan saya. Ini seneng banget lho bisa posting di @30haribercerita tanpa perlu pake barang pinjeman, hahaha.

Jadi kenapa pulang ke rumah kali ini special? karena untuk pertama kalinya setelah semester lima ini terlewati, saya pulang dengan tenang tanpa adanya beban pikiran tugas-tugas yang bikin saya kayak kutu loncat malang-bangil setiap minggunya. 

Cuma yang bikin agak sebel hari ini ya, ada gitu orang bisa-bisanya meng-PHP saya setelah setengah jam saya kayak orang bego nungguin dia didepan terminal arjosari dan ternyata we've different destination. Kalau orang yang saya maksud baca postingan tentang ini paling ketawa sepuasnya tuh, :|

Well, untungnya hari ini perjalanan cukup lancar, sampai rumah tepat waktu dan dapet pelukan hangat dari Abi dan Umik yang setiap detiknya selalu membuatku rindu. So, welcome home myself and looking forward for another Bangil story to be written here.

Stasiun Bangil, taken from seputarbangil.blogspot.com

(fatimahghaniem - 12 Januari 2013)

Saturday, January 12, 2013

Hari ke-11 : Brother Complex

Saat saya kecil seseorang pernah mengatakan kalau saya ini punya brother complex karena dari dulu saya selalu kepengen punya big brother yang mau dengerin setiap keluh kesah saya dan selalu perhatian dan menjaga saya kemanapun saya pergi. Saya pun selalu iri ketika mendengar teman-teman saya bercerita pengalaman mereka bersama their brother. Entah itu diusilin, dianterin atau dinasehatin, yang penting tentang kakak laki-laki rasanya saya pengen banget nyumpel mulutnya. Sebel banget!

Kalo udah gitu, dulu saya nangis dirumah dan merengek-rengek minta dikasih kakak laki-laki! Dan yang saya dapat dari kedua orang tua hanyalah tawa berkelanjutan. Semakin dewasa akhirnya saya tahu, kenapa saya ga bisa punya kakak laki-laki, masih penasaran kenapa? yaiyalah, mana bisa kalo saya sudah lahir dulu begini, -.-

Tetapi dasar saya yang ga habis akal, pernah lho saya itu berasumsi kalo kali aja sebelum saya lahir sebenarnya saya punya kakak laki-laki tapi dititipin di negeri seberang entah itu dimana, atau kakak saya meninggal setelah dilahirkan dan masih banyak khayalan lainnya. Intinya yang bisa membawa saya pada fakta I should have big brother who will treat me very well! 

Hingga detik umur saya yang sekian ini pun, perasaan I do want to have a brother itu masih ada lho. Meskipun udah berkurang dan ga separah sebelum-sebelumnya. Mungkin beberapa teman merasa saya dekat dengan teman laki-laki itu kok kayaknya gampang banget ya (Nurin said that!), mungkin karena I've that reason! Seringkali saya menganggap mereka sebagai Big brother yang mau dengerin keluh kesah saya, yang mau saya recokin, yang mau saya usilin and vice versa. Well, sejujurnya saya iri sekali lho sama Nurin yang punya segudang (karena ga tau jumlah aslinya berapa) big brothers dirumahnya, hehe. 

Kadang-kadang saya juga mikir, saya ini waras ga sih dengan penyakit brother complex ini? Iseng-iseng saya cari deh kasus brother complex di internet, terus nemu ceritanya Kyouya's Girl di ask yahoo yang muirip sekali dengan saya, except a real loving family's problem. Rasanya pas baca tulisan dia itu, GUE BANGET! Cuma ya kayaknya I feel so normal kok, ga harus pake psikiater. Gimana menurut kalian? Oh, yang pengen tahu ceritanya coba klik sini.

Terus karena saya merasa ga terima masalah psikiater dan mental trauma yang dikait-kaitkan dengan brother comlex, saya putuskan untuk mencari definisi sebenarnya,
Extreme non-romantic love for ones brother, sometimes similar to worshiping the ground they walk on - Urbandictionary.com
Kurang lebih maksudnya adalah perasaan suka berlebihan kepada saudara laki-laki yang terkadang kita seperti memuja apapun yang mereka lakukan. Lalu saya merasa seperti orang linglung, so how come sepanjang hidup ini saya merasa punya brother complex kalo ceritanya jadi lompat jauh gitu? Kebingungan ini berlanjut lagi setelah saya baca contoh kasus dalam sebuah percakapan yang saya capture dibawah ini.


taken from urbandictionary.com
Saya aja saudara laki-laki ga punya, gimana bisa dibilang pengidap brother complex! Lha, terus yang saya alami ini namanya apa dong kalo bukan brother complex??


(fatimahghaniem - 12 Januari 2013)

P.S. : dan saya baru ngeh, kalo tittle-nya possibly brother complex without having a brother -.-