Sunday, January 20, 2013

Hari ke-19 : Debatastic!

Debatastic adalah istilah yang diperkenalkan oleh best friend saya, @Roceano yang pernah menjabat sebagai Coordinator FEDS (FORMASI English Debate Society) untuk memotivasi semangat teman-teman berlatih debat. Terlepas dari istilah tersebut, semangatnya untuk memotivasi orang untuk berlatih debat sepanjang masa jabatannya membuat saya akhirnya berpikir so why not if I am trying? Mungkin pada akhirnya saya tidak bisa se-addicted yang lain dalam hal debat termasuk achievement. Yet, no needs to be false untuk kembali menelusuri awal mula karir debat saya kan?

FORMASI UB Delegations of SMASH
Berawal dari acara internal competition yang saya ikuti bersama @nonypoo dan bahkan kami tidak mendapatkan satu pun victory points dalam 3 round, kami akhirnya ikut intensive practice untuk kompetisi SMASH! Wait, kompetisi SMASH bukan berarti kami pindah jalur menyanyi dan menari layaknya boyband Indonesia tersebut! Tidak, tidak.. SMASH (SMANISDA Open Debate) adalah kompetisi English Debate pertama yang kami ikuti, yang diadakan oleh Osis SMAN 1 Sidoarjo (ini dulu sekolahnya si @tambahganteng, anyway kok mau ya mereka nerima dia?) se-tingkat Jawa Timur. Waktu itu, saya masih sangat cupu sekali tentang debate, tidak bisa membedakan prioritas argumentasi. Yet, Bersama-sama @nonypoo dan @gitapriyandhani, saya mendapatkan yang namanya great experience, bisa masuk octofinal sebagai 16 besar tim terbaik di Jawa Timur.

FORMASI UB won some trophies on SMASH 2011
Selanjutnya saya menjadi single fighter untuk tetap menikmati debate di awal tahun perkuliahan saya, sebab as @nonypoo has said dia belum berminat lagi untuk melanjutkan karir debatenya, bahkan sampai sekarang! (I really don't understand her stance -.-) Kompetisi kedua saya adalah SODE, Surabaya Open Debate yang diadakan di SMAN 2 Surabaya yang merupakan kompetisi tingkat nasional. Memang saya tidak berhasil masuk ke babak 16 besar, tetapi seru sekali kompetisinya bisa ketemu banyak debaters dengan argumentasi yang wow!

Memasuki awal ajaran baru, muncullah bibit-bibit debaters baru di FEDS seperti @PatraLicous dan @zem_zemy yang menjadi teammate saya di EJVED 2011. Kompetisi yang sangat menyenangkan, mengharukan dan sarat emosi karena kami terpaksa harus melawan kawan sendiri di babak penyisihan dua kali, dan kami kalah kedua-duanya.

Kemudian, di tahun 2012 pertama kalinya saya turun sebagai N1 Adjudicator atau istilah bahasa indonesianya adalah juri peserta di ITS Open Debate yang merupakan kompetisi tingkat nasional. Well, kompetisi ini berisikan banyak sekali veteran debaters yang ilmu ke-debat-annya keren ikut serta sebagai PESERTA! Rasanya dulu saya kayak bunuh diri aja sewaktu mengiyakan tawaran @adityajanu untuk menjadi tim N1 Adjudicatornya. Disana pertama kalinya saya men-juri tim sebagus dan sebesar UGM yang mempunyai Alvin dengan flawless speechnya, Itu keren banget, argumentasinya rapi dan saya ga tau harus kasih constructive feedback apaan. Berasa bego banget deh saya waktu itu! Tetapi ga disangka-sangka saya bisa masuk 15 Best Adjudicator di tournament ini, thank you ITS for such remarkable experience! Kalo penasaran, disini ada liputan singkat tentang ITS Open 2012.

FORMASI UB Delegations on SMASH 2012
Semakin memasuki 2012 saya jadi semakin sering turun sebagai N1 Adjudicator, mungkin karena merasa enjoy dan lebih dapet ilmu. Berikut kompetisi selanjutnya yang saya ikuti hanyalah SMASH 2012 yang saya turun sebagai debater dan lolos hingga perempat final. Sedangkan kompetisi yang saya turun sebagai tim juri adalah JOVED (Java Overland Inter-Varsities English Debate) yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Joved and Me... kemudian English Festival di Unila Lampung dan terakhir saya menjadi Invited Adjudicator atau Juri Undangan di IR-Fest milik Himahi UB dan EJVED (East Java Varsities English Debate ) milik Legato UM.

FORMASI UB Delegations on E-Fest Unila Lampung
Feel the taste of the debate, it is really debatastic! Menyenangkan! Bukan hanya ilmu dan teman yang kita dapatkan lho, tapi juga melancong kemana-mana. Mungkin memang saya lebih banyak turun di sekitar Surabaya dan Malang, tapi saya juga pernah ikut ke Purwokerto di UNSOED JOVED kemudian E-Fest Unila di Lampung. Mengesankan lho bisa sekalian wisata kuliner dan berkunjung ke tempat-tempat asyik disana. Regulasi saya tahun ini bisa ikut lagi kompetisi dan tournament di luar Surabaya dan Malang, semoga saja bisa terwujud ya! Maklum, sebagai anak tunggal terkadang terkendala izin, haha. Masih banyak kompetisi diluar sana yang menggiurkan seperti IVED di Bandung kemarin, MDO dan SIDEO di Malaysia and so many others!

Having Lunch together at HokBen Malang
Terakhir, saya mau berterima kasih deh sama FORMASI UB yang memberikan saya banyak ilmu dan kesempatan terutama dalam dunia debating dan adjudicating. Terima kasih juga untuk Universitas Brawijaya atas dukungan semangat dan dananya, semoga tidak bosan untuk terus supporting kegiatan-kegiatan kami.

(fatimahghaniem - 20 Januari 2013)

Friday, January 18, 2013

Hari ke-18 : Siapa Yang Takut?

Masih inget film kartun Scooby-Doo? Film ini dulu sangat booming sekali hingga disiarkan di beberapa stasiun tv setiap siang dan sore hari setelah pulang sekolah. Masih teringat jelas yang menjadi kekuatan film ini adalah duo penakut, Shaggy dan Scooby. Dalam ceritanya,  Shaggy dan Scooby adalah anggota The Mystery Gang yang membantu mengungkap fakta dibalik issue hantu yang beredar di masyarakat. Karena kecerobohannya, keduanya lebih sering ditugaskan untuk membantu mengawasi sekitar dalam misi penangkapan hantu. Biasanya mereka ngeles dulu tidak mau, tetapi ketika dihujani iming-iming makanan; sontak Shaggy berkata, "Siapa yang takut? kami tidak takut. Ayo Scoob kita pergi sekarang!" Mungkin sudah nasib jelek keduanya, ketika justru Scooby dan Shaggy yang paling sering bertemu dengan hantu ataupun monster tersebut. Kalo sudah begitu, keduanya saling berpelukan seperti gambar di bawah ini. Hmm.. jadi pengen dipeluk deh :|


taken from fanpop.com

Tabiat buruk Shaggy dan Scooby ini mengingatkan saya pada masa kecil yang kalo diinget-inget lagi, sangat menggelikan. Dulu sewaktu kecil, saya tinggal bersama tante-tante dan seorang sepupu perempuan di rumah nenek. Nah, seperti biasa walaupun usia kami terpaut 7 tahun, setiap harinya ga ada kata absen ribut dan berantem sama sepupu saya tersebut.  Terutama semenjak kami pergi mengunjungi wali limo dimana saya entahlah mungkin imajinasi yang terbawa-bawa menjadi sangat penakut untuk pergi ke kamar mandi tengah malem. Hal ini memaksa saya untuk mengganggu tidurnya untuk mengantarkan saya ke kamar mandi, apalagi dulu sewaktu kecil saya selalu terbangun setiap malamnya hanya untuk pipis. Saya takut, karena setiap kali pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah, di depannya terbayang makam-makam berjajar seperti yang saya lihat saat mengunjungi wali limo. Spooky sekali!

Rupanya karena jengkel saya ganggu terus tiap malam atau mungkin menjadi kesempatan emas untuk meledek, muncullah sebutan Fatimah lecek yang kalau di convert ke bahasa indonesia menjadi Fatimah penakut. Sebagai anak kecil, jelasnya saya dongkol tapi karena benar jadi saya ga melawan. Tetapi ledekan ini terus berlanjut, misalnya mau tidur di takut-takutin kalo di kolong kasur banyak monster atau guling bisa berubah jadi pocong kalo malem dan banyak hal lainnya apalagi saat itu film horror juga booming di tv dan ftv indonesia.

Hal ini berimbas pada kegiatan mengaji malam hari di kampung nenek yang saya ikuti, yang mana saya bakal menyeret satu teman untuk mengantarkan saya pulang. Kenapa? kamu mau melewati jalan gelap antara dua pekarangan SENDIRIAN? Lengkap sudah ketakutan saya saat dengan munculnya mata bersinar di kegelapan pekarangan yang melihat tajam ke arah saya dan teman saya. Serem ga? Terus takut ga nih? Kalo iya buruan peluk orang di sebelah kalian kayak Shaggy dan Scooby biar takutnya tersalurkan!

Jadi setelah ketemu dua mata berkilat tersebut, apa yang kami lakukan? ya jelas kami lari dan menjerit! Hihi, berasa di film aja ya? Tapi ini bukan film, ini serius lho. Saking seriusnya sampe jeritan kami mengundang orang sekampung (serius sekampung!) berbondong-bondong datang menanyakan apa yang terjadi. 

Dan tau ga apa yang sebenarnya terjadi? Damn! Ini amat sangat menjengkelkan ketika kami berdua sadar ternyata itu hanya sepasang mata kucing yang asyik bertengger di tembok pekarangan tersebut! Cih, kami rasanya pengen ngilang dari tempat itu juga!

Kebayang ga puasnya ketawa kakak sepupu saya malam itu? Sumpah nyebelinnya udah kayak minta digorok! Bisa ditebak juga kan apa yang dilakukan kakak sepupu saya malam itu hingga hari-hari selanjutnya? Semakin rajin bikin saya takut sama hantu dan kegelapan! Ada satu hal yang saya paling inget, alasan kakak sepupu saya sangat bangga mengaku pemberani dan rajin meledek saya. Ia selalu membesar-besarkan fakta bahwa lahir tengah malam membuatnya menjadi sosok pemberani sedangkan saya menjadi penakut akibat lahir pukul 6 pagi. Does it make sense? I don't think so!

Well, baiklah berangkat dari rasa malu akibat kejadian tersebut dan pembuktian diri bahwa saya bukan orang penakut karena lahir jam 6 pagi, saya mulai (sok) berani untuk ke kamar mandi sendiri setiap malamnya. Awalnya memang serem banget, bahkan saya harus menunduk bersikap sopan ketika berjalan ke kamar mandi layaknya ketika berjalan di makam. Lama kelamaan saya berani dan ga pernah lagi repot ngebangunin orang tengah malem. Pulang mengaji juga begitu, saya ga pernah mau lagi dianter, nekat pulang sendiri. Pergi kemana-mana maunya sendiri, ga mau dianterin. Ke sekolah, ke rumah teman semuanya serba sendiri bahkan kadang saya memilih menyusurinya dengan jalan kaki. Tidur juga berani tidur sendirian.

Akhirnya semua ilusi dan imajinasi makam-makam, guling pocong dan lain sebagainya ga pernah nongol lagi dalam kehidupan saya. Kakak sepupu saya juga takjub dengan perubahan saya saat itu. Imbasnya mungkin saya jadi terkesan suka menyendiri kalo di rumah. Anehnya dan yang bikin ngakak adalah fakta kalo kakak sepupu saya tersebut justru menjadi penakut sekali sekarang. Gelap dikit, ngomel ga bisa tidur. Ada suara angin dikit, minta ditemenin. Ke kamar mandi tengah malem? bangunin saya! Ironis banget kan?

Jadi intinya, aturan lahir pagi atau malem buat saya itu ga ngaruh sama sekali dengan personal trait-mu menjadi penakut apa ga. Takut itu bisa jadi hanya ilusi kamu aja atas hal-hal yang sudah tertanam dalam otak. Jadi jangan pernah merasa takut akan suatu hal kalo kamu masih percaya agama. "Takut yang dibolehkan itu ya takut sama Allah SWT" begitu wejangan abi saya yang sangat nyantol sampai saat ini yang disampaikan sedari kecil saat saya masih hobby menggerutu karena diledek lecek

Bagaimana dengan Fobia? Wah yang ini beda kasus sepertinya. Mungkin Fobia hantu adalah penyakit Shaggy dan Scooby. Lho kok tiba-tiba balik lagi ke Shaggy dan Scooby? karena saya sudah selesai bercerita dan bingung mengakhirinya gimana. Masih penasaran sama Fobia?  silahkan wawancara Shaggy dan Scooby. Ya sudah segitu aja, terima kasih :p


(fatimahghaniem - 18 Januari 2013)

Thursday, January 17, 2013

Hari ke-17 : Awal Perjalanan Kami

DBL ARENA!

Ada yang bertanya kenapa postingan kali ini hanya berupa foto-foto saja? Terlalu banyak tulisan juga bosan kan? ini jawaban lempar pertanyaan yang berunsur alibi sekali, haha. Mungkin lebih tepat alasannya karena sepertinya keletihan menyebabkan ide-ide tak betah hinggap di otak kemudian terbang tinggi mencari sarang yang lebih nyaman untuk ditinggali dan menyemai mereka menjadi sebuah hal konkret yang bermakna. Hahaha, masih rumit memahaminya? salahkan penyakit malas yang sedang hinggap dalam diri saya :

Singkat saja, hari ini saya dan @itamitum telah memulai perjalanan panjang kami menuju dunia awal kerja melalui program PKL. Tidak tahu pasti akankah kami benar-benar memulainya di tempat yang dengan bangganya kami capture bersama-sama. Semangat kami untuk berusaha seperti halnya kata orang bahwa berusahalah tiada henti hingga nanti nafas kan meninggalkan raga. Semoga nanti, the destiny memang memberikan jalan kepada kami di tempat yang terbaik, tempat yang juga menjadi pilihan kami. Selamat menikmati moment-moment awal perjalanan kami!

Didepan pintu masuk bagian barat DBL ARENA 

















Didepan Kantor JTV









Suasana Halaman Belakang Kantor JTV



Iya tau ini foto narsis sekali, tetapi mengingatkan kami pada ruangan mempesona di dekat kamar mandi ini :)



GRAHA PENA JAWA POS GROUP



This is the first time I explore all the buildings even though Nurin and I only goes on the surface. Yet, it is really gorgeous! This is one of some places I always dream to be visited since I was on Junior High School! The time might fly but the hope to be one of the teams had never gone! See you next time, Jawa Pos Group!

(fatimahghaniem - 17 Januari 2013)

Wednesday, January 16, 2013

Hari ke-16 : The Heavenly Couple

Liburan memang identik dengan bermalas-malasan, tapi bakal asyik kalo kamu punya segudang film atau buku untuk dilahap. Sayangnya saya ga ada rencana mengoleksi tumpukan film dan buku untuk liburan ini, karena justru saya lagi pengen melancong atau travelling kemana gitu. Tetapi namanya juga belum takdir, dikarenakan suatu hal I should stay at home.

Dua hari yang lalu, saya menemukan novel berjudul The Heavenly Couple yang tergeletak di antara buku-buku di meja belajar yang dipinjamkan adik sepupu saya sekian bulan silam yang saya bahkan ga ingat kapan. Well, lumayan kan buat mengisi waktu luang? Berikut review novel tersebut versi saya. Selamat menikmati!

The Heavenly Couple adalah jenis novel yang cukup romantis, tidak terlalu menye-menye yang melulu menceritakan kisah cinta remaja. Novel ini bercerita tentang sepasang suami istri muda bernama Majid dan Malihe yang mendapat kesusahan dalam menjalani kehidupan mereka dikarenakan label kriminal yang didapat Majid setelah dituduh mengetahui jejak adiknya yang kabur dari penjara akibat gerakan revolusioner yang diikutinya. Oleh karena itu, Majid memilih untuk berimigrasi keluar negeri, dan pilihannya jatuh ke Turki. Namun, Majid sebagai seorang yang dicap bahaya dan extremest tidak memiliki hak atas paspor. 

taken from
komunitasbacabuku.com
Malihe adalah istri yang sangat baik dan teguh pendiriannya. Baginya sosok ibunya adalah figur teladan untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang istri. Dari sinilah keputusannya untuk menemani Majid berimigrasi lahir. Ia rela bersusah payah menemani Majid menyelundup hingga perbatasan bersama kedua anaknya, Mahdi dan Shaba. Malihe juga rela mengantri demi mendapatkan visa di kantor PBB, karena Majid tidak bisa berkeliaran secara bebas. Tidak hanya polisi tetapi jga kawan-kawan revolusioner Hosein, adik Majid yang kabur dari penjara pun mengejar keberadaan mereka. Perjalanan mereka memang tidak mudah, banyak hal terjadi diluar perkiraan mereka apalagi menghadapi tanah airnya, Iran pasca perang. Beruntungnya mereka bertemu dengan pasangan suami istri yang baik hati bernama Nyonya Golin dan Tuan Akram Afandi yang memberikan mereka pekerjaan dan tempat tinggal sementara pada masa pelarian keluarga kecil tersebut. 

Ceritanya cukup menarik lho dari awal hingga penghujung cerita, Manije Armin penulis novel ini benar-benar mengantarkan kita pada suasana Iran pasca perang yang mana tidak hanya perang yang membuat penduduk setempat resah tetapi juga keberadaan extremist revolusioner yang bergerak untuk kepentingan organisasi misalnya. Jalan ceritanya pun seru untuk diikuti dan membuat penasaran.

Sayangnya, novel The Heavenly Couple ini menurut saya tidak mencapai klimaks dan penyelesaian yang bagus. Terkesan tergesa-gesa mengakhiri cerita dan tidak jelas maksud dari penyelesaian dan endingnya yang agak sedikit menggantung. Selain itu juga, tidak ada keterangan berupa footnote atau glosarium penggunaan bahasa parsi yang kadang muncul di novel ini. Tetapi, overall novel ini cukup recommended buat kamu-kamu yang pengen mengisi waktu luang. Lumayan kan, bisa menyelami Iran dan nasib penduduk setempat yang resah akan kehidupan mereka.

Terakhir, ada semacam quote favorit novel ini yang menjadi kekuatan terbesar Malihe untuk berbakti kepada suaminya. Quote yang disampaikan ibunya Malihe yang menjadi prinsipnya untuk teguh menemani suaminya disaat apapun. 
"Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan - The Heavenly Couple"
Tidak menuntut perintah, tapi manis untuk dilaksanakan. Benar tidak? 


(fatimahghaniem - 16 Januari 2013)

Tuesday, January 15, 2013

Hari ke-15 : Galau Itu Apa?

Postingan ini special buat semua orang yang sudah mengklaim saya galau semenjak postingan cerpen kemarin. True! ini bentuk pembelaan saya, karena kayaknya nyerempet dikit masalah percintaan semua orang langsung bilang galau, sedih dikit dibilang galau, ngomel dikit dibilang galau. Terus senggol dikit galau, bacok udah ga laku kali ya? mungkin karena parangnya udah tumpul :|

Jadi sebenarnya definisi galau itu apa? Standart dan parameter galau itu sebenarnya gimana? yuk cekidot hasil telusuran saya!

Berikut adalah postingan status seorang teman yang menulisnya di akun google+ 

Setuju sama kamu dik, emang bentuk nyata galau itu keadaannya seperti apa belum jelas.

Terus yang dibawah ini, menurut pendapat blogger yang saya ga tau namanya, klik disini aja kalo penasaran.
Kata galau bisa diartikan sebagai bentuk perkataan seseorang yang sedang mengalami pikiran yang tidak karuan atau dalam keadaan yang tidak menentu.
Baiklah, pikiran yang tidak karuan dan keadaan yang tidak menentu itu seperti apa jelasnya? katanya si empunya blog sih, galau itu sedih, bimbang, gelisah, bingung dan sebagainya. Lha orang sedih karena kehilangan orang yang disayanginya apakah sama dengan orang yang kebingungan cari alamat rumah? Ah, definisi ini agak sedikit memaksa, menyama-ratakan semua hal yang berakar pada pikiran yang tidak karuan. 

Asal comot definisi emang susah menemukan ke-valid-an-nya, yaudah langsung ngacir ke KBBI aja alias Kamus Besar Bahasa Indonesia!

                      
Anda bingung? saya juga :|
Tapi ternyata, definisi kacau tidak keruan memang ada di KBBI untuk istilah galau. Sayang tidak ditemukan penjelasan lebih jauh didalamnya, meskipun sudah saya coba meng-klik cari penggunaan lain kata galau.

Masih dengan ketidak-puasan yang menggelayut, saya cari kembali makna ataupun mungkin penjelasan dari istilah galau yang sudah meraja-lela terutama di kalangan remaja dan masyarakat umum yang lebih jauh lagi. 

Tarraa.. saya menemukannya di salah satu laman milik kompas, berupa opini yang menurut saya ringkas dan padat sekali isinya. Terima kasih Fandy Sido yang telah memberikan pencerahan kepada saya dan mungkin mereka yang masih meraba-raba makna sebenarnya galau. Yasudah, ga pake banyak bahasan lagi, langsung lahap saja opininya fandi di kolom opini kompasiana.com disini. Selamat menikmati!

(fatimahghaniem - 15 Januari 2013)

Monday, January 14, 2013

Hari ke-14 : Merindu

Aku akhirnya mencoba mengunjungi pantai hari ini, dan sudah kuhabiskan seperempat hari hanya untuk memandangi laut. Jangan bertanya aku sedang apa, aku hanya merindukanmu dan mungkin hanya laut yang bisa membuat rinduku ini mengering habis.

Kenapa harus pantai? Tentu saja, karena ini tempat favoritmu. Kamu tak pernah henti menceritakannya demi membuatku tergoda untuk mampir. Kamu pasti senang melihatku berdiri di tengah lautan pasir, meninggalkan jejak kakiku disana.

Aku ingat sekali kamu selalu bilang, pantai itu tempatmu melepaskan penat, menghapus duka dan menanam asa. Bersama laut, kamu bisa bercumbu dengan kuatnya karang dan kerasnya tamparan ombak. Menyadarkanmu akan arti keberadaanku, ya kamu selalu bilang aku adalah pengingatmu untuk selalu menjejak tanah dan meraih mimpi.

Lihat, hanya dengan menatap pantai aku bisa mengingat banyak hal tentangmu. Jangan marah aku tak pernah berkunjung kesini, bukan karena aku tidak ingin mengingatmu tetapi aku tak mau larut dalam kesedihan yang kamu tabur. Kamu harus tahu, merindukanmu saja sudah membuatku uring-uringan.

Ku tulis namamu didekatku berdiri, mencoba menantang ombak yang datang menghampiri. Seberapa sanggup kamu meraih dan merebut namanya yang kulukis indah disampingku? Aku tertawa ketika kulihat dengan mudahnya namamu terhapus oleh sapuan ombak. Kamu mungkin benar, ombak memang keras seperti kerasnya aku yang melarangmu pergi ke tempatmu berada sekarang.

Di ujung kanan sana, banyak sekali batu karang yang bersiul mengajakku untuk mampir. Dengan kesal aku melangkah menuju bebatuan tersebut, melompat perlahan menyampaikan makian karena pantai berhasil merampas kamu dariku. Lagi-lagi aku tertawa pilu, jatuh terduduk akibat lumut hijau yang marah karena aku telah melecehkan kuatnya karang. Aku kesal, karena kamu pergi tanpa kabar.

Kenapa kamu bilang aku mirip seperti laut? Aku sama sekali tidak seindah laut biru, tidak sedikitpun. Kenapa kamu bilang aku sekuat batu karang? Kamu terlalu naif menilaiku, aku rapuh tanpa hadirmu. Kenapa kamu bilang aku bagaikan tamparan ombak yang selalu kamu rindu? Aku bahkan sekarang membenci ombak yang membawa pergi dirimu entah kemana.

Kembali kuingat pertengkaran hebat itu, saat kamu lebih memilih pergi menyebrangi lautan hanya untuk sekedar memuaskan diri. Kamu bahklan memilih menghiraukan sejuta peringatan yang kuikrarkan demi menghentikan langkahmu sebulan yang lalu. Kamu lihat sekarang? Kamu hilang tak berbekas entah dimana.

Sekarang aku ragu dengan asumsimu. Kukira kamulah laut, batu karang dan ombak itu, bukan aku seperti yang selalu kamu sampaikan. Aku hanyalah pasir pantai yang merupakan butiran kehancuran sang karang, yang rapuh disapu ombakmu dan tidak indah tanpa adanya lautan. Aku, akulah yang membutuhkanmu, bukan kamu.  

Mendadak suara ringtone yang kurindukan itu menggema di tengah tangisan piluku, sejenak membuatku tertegun memandangi layar handphone yang mengedipkan namamu.

“Hai,” katamu diujung telfon. Kamu tahu aku bisu mendadak, tidak sanggup berkata-kata. Mendengar suaramu yang telah sebulan hilang, sudah sanggup membuncahkan tangisanku lagi. Tetapi tentu aku tidak mau menangis didepanmu, dan memilih membisu. “Kamu dipantai? Sedang apa?” Kata-katamu sungguh mengejutkan, membuatku reflek mencari keberadaanmu disekeliling pantai, tetapi kamu tidak ada dimana-mana. “Kamu merindukanku?” dan kamu tertawa kecil.

“Tentu saja!” Jeritku kesal. “Kamu sekarang dimana?”

“Masih ditempat ekspedisi pencarian paus, sedang apa kamu di pantai?”

“Bagaimana kamu tahu aku sedang di pantai?”

“Aku hafal suara ombak yang selalu memelukku,”

“Jangan sok puitis!”

“Kamu yang membuatku puitis akibat rindu yang sudah tertimbun”

 Aku tertawa, “Itu salahmu!”

“Maaf sudah membuatmu khawatir, disini susah sinyalnya. Secepatnya aku pasti pulang,”

Lihat, kamu selalu asyik dengan asumsimu, selalu begitu. Kamu seharusnya tahu aku disini sangat merindukanmu, menginginkanmu cepat kembali. Aku memang egois, melarang kesenanganmu demi ingin melihatmu selamat disini. Tetapi semua itu tidak ada artinya. Karena seperti yang sudah kukatakan, aku hanyalah pasir pantai yang tunduk akan ombak. Hanya mendengar suaramu saja, aku sudah lupa akan semua kegelisahanku terhadapmu. Hanya mengetahui kejelasanmu dimana saja, sukses membuatku lupa akan seluruh kesal dan kecewaku terhadapmu. Kamu lihat kan, sungguh kuat pengaruhmu terhadapku. Membuatku tak henti jatuh cinta kepadamu, seperti halnya hari ini kau membuatku jatuh cinta kepada laut yang membawamu kembali kepadaku.


(fatimahghaniem - 14 Januari 2013)

P.S. : Cerpen pertama yang saya publish di blog demi merealisasikan tantangan dari @AzuraMiuw_ Saya tahu ini jelek dan kepanjangan, saya memang ga ahli bikin cerpen! silahkan dihina-hina tidak masalah :) Oh iya, just information aja lho, inspirasi cerita ini sebagian besar dari kunjungan saya ke Papuma akhir desember lalu bersama teman-teman yang pernah saya ceritakan di short rush travelling. Terakhir, ini foto favorit saya, yang diambil sahabat saya @adityajanu



Hari ke-13 : Tentang Mereka

Inspirasi tulisan ini mungkin didapat setelah membaca blog sebelah milik @salsabilasasmi tentang alayers. Didalamnya dibahas juga tentang geng jaman SMA yang dibuat dengan nama alay dan sebagainya. Aseli saya langsung teringat jaman-jaman jahiliyah tersebut, tapi truly seperti yang dikatakan sasmi justru disanalah momen termanisnya.

Merangkai kembali momen-momen termanis yang pernah saya buat dengan well,let's say geng SMA, membuat saya akhirnya menyelami memori-memori yang tercetak manis dalam beberapa gambar berikut ceritanya.

tour ke mojokerto
best teammates
Berawal dari kesamaan karena desperately terjebak di dunia RSBI, kami (yang perempuan) akhirnya sering ngobrol dan curhat sana-sini seputar keseharian. Lalu datanglah proyek seni rupa yang mengakrabkan kami dengan hasan, billah, fani dan adit. Dilanjutkan dengan berbagai proyek kelas yang terus berdatangan seperti outbond, tour ke tempat sejarah di mojokerto, theatrikal hingga pada akhirnya kebersamaan kami dipisahkan oleh perbedaan kelas saat menginjak kelas 2 SMA.

Punya kesamaan minat dalam mendalami komik dan dunia jurnalistik, kami juga bergabung di mading sekolah. Saat kami kelas 2, kebetulan @adityajanu menjadi ketua umum Mading. Agak berasa seperti AADC gitu deh, kami sedikit banyak menguasai mading yang bahkan ga punya sekber tapi tetep eksis melalui keikutsertaan kami di DetEksi Con yang diadakan Jawa Pos Group. Itu banyak banget kenangan manis dan pahitnya, aaah.. serasa pengen terbang ke masa-masa itu.

nuwailah, aryn, saya, qanitah, vioryza
udah persis skuad sepakbola ya? -.-
Tidak hanya itu, rupanya minat untuk mengikuti KTI yang digembor-gemborkan saat SMA membuat kami penasaran dan tertarik untuk membuat penelitian bersama. Digawangi @malessinau, kami akhirnya meneliti pabrik tahu yang banyak terdapat di kota kecil kami. Disanalah muncul @yuntyansyah yang rela rumahnya dijadikan basecamp kedua bersama @ilham_irmansyah untuk melanjutkan penelitian tersebut. Kemudian, tarraaa.. tepatnya tanggal 12 Maret 2009 kami menetapkan hari jadi geng kami dengan nama tewebe family. Nah lho, artinya apaan tuh? Rahasia dong! #oposeh

1st anniversary @aryne1 home















jogja vacation

dinner at illy sewaktu @malessinau main ke malang
















Jangan salah lho, kami masih sering bermain bersama meskipun gak pernah selengkap dulu. Mungkin karena seiring berjalannya waktu, kami sadar kalau kami punya visi-misi yang berbeda. Apalagi ditambah perbedaan kampus yang terpencar di 3 kota jawa timur, surabaya-malang-jember. Namun, kalau memang ada kesempatan, kami pasti sempatkan waktu untuk sekedar bertemu dan main bareng, misalnya saat liburan, perayaan ulang tahun, anniversary atau tahun baru. Ah jadi ga sabar ketemu mereka liburan ini, bisa ga ya? 

last journey with them, papuma beach
saya yang merindukan kalian, si kenangan termanis :*

(fatimahghaniem - 14 Januari 2013)